jump to navigation

23/11/2007

Posted by admin ppi-um in MOTIVASI.
1 comment so far

Yaya, Peneliti Temulawak di Korea

link :http://www.kompas.com/ver1/Negeriku/0710/25/052320.htm

 
 
Dr Yaya Rukayadi

Di sekitar laboratorium tempat Dr Yaya Rukayadi (43) berkutat dengan kesibukannya sebagai peneliti senior sekaligus pengajar di Yonsei University, Seoul, Korea Selatan, terdapat sejumlah tanaman obat Indonesia, khususnya temulawak. Tanaman tersebut sengaja dikirim dari Tanah Air ke Negeri Ginseng itu untuk diteliti.

Dari pertanyaan mengapa tanaman obat di Indonesia diteliti di Korea, Yaya Rukayadi mengawali ceritanya. Ia ingin agar temulawak bisa dijadikan “merek” Indonesia, sama seperti ginseng yang sudah menjadi merek atau setidaknya membuat orang ingat Korea.

“Kalau orang ngomong ginseng, pasti asosiasinya Korea. Padahal, negara yang memproduksi ginseng terbesar di dunia adalah Kanada dan China. Orang Korea juga mengimpor bahan dasar ginseng dari Kanada dan China,” ungkap Yaya Rukayadi dalam percakapan dengan Kompas awal Agustus 2007 di Yonsei University, Seoul.

Obsesi Yaya menjadikan temulawak sebagai ikon tanaman obat dari Indonesia sama seperti ginseng yang sudah menjadi ikon Korea.

Di Indonesia, untuk tanaman obat temulawak (Curcuma xanthorrhiza), jangankan kultivasi yang benar, pemetaan temulawak pun data resminya belum ada. Oleh sebab itu, Yaya bekerja sama dengan Pusat Penelitian Biopharmaca di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Departemen Pertanian untuk membuat riset dasar tentang temulawak.

Tak punya musuh
Temulawak adalah tanaman yang hampir tak memiliki musuh (hama). Tanaman ini menghasilkan antijamur, ia tak akan terkena jamur karena temulawak sendiri menghasilkan jamur.

Tanaman temulawak di Indonesia hanya ada di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Maluku Selatan. Menurut Yaya, temulawak bisa tumbuh di Sumatera, tetapi tidak bisa sebaik kalau ditanam di Pulau Jawa. Untuk lebih memopulerkan dan memperkenalkan tanaman temulawak ke forum internasional, Yaya bekerja sama dengan IPB untuk mendeklarasikan Kongres Internasional Temulawak pertama pada Maret 2008 di Bogor, Jawa Barat.

Presiden Susilo bambang Yudhoyono, tutur Yaya, mengundang dia ke Istana Presiden di Jakarta untuk mempresentasikan secara rinci soal temulawak tersebut. “Kebetulan akhir Oktober nanti saya menjadi salah satu pembicara pada simposium internasional tentang farmasi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Di forum itu, saya diundang sekaligus berbicara bersama 11 ahli farmasi dunia,” ujar Yaya.

Meski “terpakai” di Indonesia, Yaya memilih tinggal di Korea. Agaknya motivasi dia untuk tetap “bertahan” tinggal, mengabdikan diri, serta mendalami ilmunya di Korea sama dengan umumnya warga Indonesia yang memilih tinggal di luar negeri. Mereka mampu berprestasi, tetapi kurang dihargai di negeri sendiri.

Warga kehormatan
Di negara lain, mereka bisa lebih bebas mendalami ilmu, berprestasi, sehingga bisa mendapatkan penghargaan yang layak. Bahkan, Yaya yang tinggal di Seoul sejak tahun 2000 itu tak hanya menjadi peneliti senior dan pengajar pada perguruan tinggi swasta Yonsei University, tetapi juga menjadi salah satu warga kehormatan di
Kota Seoul.

Karena itu, ketika Presiden Yudhoyono bertemu dengannya di Korea dan menawarkan kembali ke Tanah Air dan mengabdikan ilmunya di Indonesia, Yaya merasa bimbang. Ia tak segera menerima tawaran tersebut.

“Kembali ke Indonesia, saya pikir bukan satu-satunya jalan terbaik. Kalau pulang ke Indonesia, apakah saya bisa mengembangkan ide-ide saya secara bebas? Jangan-jangan kalau saya pulang ke Indonesia, malah saya menjadi birokrat, bukan peneliti lagi. Saya tidak ingin pulang ke Indonesia, lalu duduk di belakang meja, kemudian tunjuk sana tunjuk sini. Nah, masalah itu yang sedang saya pikirkan,” tutur Yaya.

Di Korea, dia merasa bebas melakukan apa pun yang ingin dikerjakan. Di Negeri Ginseng, seorang ilmuwan tidak disibukkan dengan urusan birokrasi seperti halnya di Indonesia. Kegiatan lain Yaya di samping menjadi ilmuwan adalah sebagai tamu pada program siaran seksi Indonesia di Radio KBS Seoul.

Padahal, cita-cita Yaya sebenarnya ingin menjadi seorang guru. Oleh karena itu, dia bersikeras kepada orangtuanya agar bisa belajar di sekolah pendidikan guru di Kota Sumedang. Namun, orangtuanya ingin supaya Yaya belajar di sekolah menengah atas (SMA). Kebetulan, di Situraja, tempat tinggalnya dulu, ketika itu baru berdiri SMA.

Setelah lulus SMA tahun 1983, dia mengikuti beberapa kali ujian masuk perguruan tinggi melalui sistem Proyek Perintis (PP) I sampai PP IV. Selain diterima pada Jurusan Farmasi ITB, Yaya juga lolos seleksi di IPB. Ia pun diterima di Jurusan Biologi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung, atau sekarang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Yaya kemudian memutuskan mengambil Jurusan Farmasi ITB. Namun, rupanya cita-cita untuk menjadi guru tetap membayangi sehingga kuliah di ITB hanya dijalaninya setahun. Ia lalu memutuskan pindah ke IKIP Jurusan Biologi hingga sarjana, kemudian menyelesaikan program S-2 dan S-3 di IPB.

Pada waktu melakukan penelitian program doktor, dia pernah dikirim dan lolos seleksi masuk University of California di Berkeley, Amerika Serikat (AS), tahun 1996 untuk mempelajari tentang biokontrol pada penyakit kedelai.

Setiap tahun, kata Yaya, University of California hanya menerima 20 mahasiswa melalui seleksi yang ketat. Dari jumlah mahasiswa itu, 10 di antaranya merupakan warga AS, sedangkan sisanya dari luar AS.

“Ketika itu saya satu-satunya mahasiswa dari Asia,” ucap Yaya, yang juga sempat melakukan penelitian biokontrol untuk penyakit kedelai di University of Edinburgh, Skotlandia, tahun 1998.

Akan tetapi, dari hasil riset soal kedelai di AS itulah Yaya Rukayadi kemudian memperkenalkan salah satu rumus kimia YR 32-menyangkut penyakit kedelai-kepanjangan dari Yaya Rukayadi, sedangkan angka 32 adalah umur dia saat melakukan penelitian tersebut.

Setelah meraih S-3, Yaya tertarik pada temulawak sebab sepengetahuannya tanaman itu hanya ada di Indonesia. Ia lalu memusatkan perhatiannya pada temulawak.

Keinginannya untuk meneliti lebih jauh manfaat temulawak semakin terbuka lebar saat dia diajak Prof Jae Kwan-hwang, pengajar pada Yonsei University, untuk bergabung sebagai peneliti sekaligus pengajar pada perguruan tinggi tersebut.

Dari hasil penelitian pada temulawak, dia antara lain menemukan fungsi temulawak sebagai antiketombe. Temulawak juga bisa dimanfaatkan sebagaipasta gigi. Menurut Yaya, temulawak pun sangat mungkin dapat digunakan untuk mengatasi penyakit kanker. Meski untuk itu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut.

Meski cukup sibuk, Yaya tetap menyempatkan diri menulis hasil penelitiannya tentang temulawak untuk jurnal-jurnal ilmiah internasional. Alasannya, agar temulawak menjadi perhatian lebih banyak peneliti di dunia.

BIODATA

* Nama : Dr Yaya Rukayadi
* Lahir : Sumedang, 17 Agustus 1964
* Keluarga : Dia anak bungsu dari enam bersaudara
* Hobi : Fotografi, jalan-jalan, dan menulis. Salah satu hobinya
adalah menulis cerita pendek (carita pondok-carpon)
pada Majalah “Sunda Mangle”.

* Pendidikan:
- Lulus SMA, 1983
- Kuliah pada Jurusan Farmasi ITB, 1983-1984
- Sarjana Biologi IKIP Bandung, 1984-1990
- Program Master (S-2) di IPB Bogor, 1992-1995
- Program Doktor (S-3) di IPB, 1995-1998

* Kegiatan Lain:
- Menjadi pembawa acara pada Radio Korea International (RKI)
- Korean Broadcasting System (KBS), 2002

* Penghargaan:
- Sebagai Warga Kehormatan Kota Seoul, 2007, dia antara lain bisa
bepergian ke mana saja di kota itu secara gratis

Dede Martino, Kesetiaan Mencipta 02/10/2007

Posted by admin ppi-um in MOTIVASI.
6 comments

Link from http://www.kompas.com/ver1/Negeriku/0709/22/170529.htm

Kompas/Irma Tambunan

Dede Martino

Kita kaya akan sumber daya alam, tetapi belum mampu menempatkan diri lebih maju dari bangsa lain. Pasalnya, banyak temuan teknologi yang tidak dimanfaatkan untuk mendobrak ketertinggalan. Padahal sampah, semak belukar, atau barang-barang rongsokan pun sebenarnya dapat diberdayagunakan.

Dede Martino (42) telah memulai upaya memanfaatkan kekayaan alam Indonesia sejak masa sekolah menengah pertama. Mata yang jeli dengan otak yang cepat berputar memampukan Dede mencipta lebih dari 50 karya teknologi. Sebagian besar adalah temuan dalam bidang pertanian.

Dede mengajak Kompas ke laboratoriumnya, yang lebih mirip gudang penyimpanan mesin-mesin. Kebutuhan alat-alat pendukung kegiatan penelitian, menurut dia, lebih penting ketimbang sebuah laboratorium kampus yang besar, tetapi peralatannya kurang memadai.

Di tempatnya tersedia hampir semua alat untuk menghasilkan karya penelitian. Sebagian alat dibelinya dari hasil penjualan produk temuan-temuan terdahulu. Sebagian lagi berasal dari gaji sebagai dosen Fakultas Pertanian di Universitas Jambi.

Mesin-mesin tersebut telah menghasilkan, salah satunya nozel. Teknologi irigasi sekaligus pembasmi hama ini, sejak ditemukan tahun 2004, telah terjual lebih dari 6.000 unit. Dari hasil penjualan itulah Dede dapat membeli sebuah mobil Hiline bekas dan membuat rumah yang bahan bangunannya dikumpulkan dengan mencicil selama bertahun-tahun.

Ciptaannya yang lain adalah detektor kandungan pupuk dan detektor pupuk organik. Alat ini bekerja dengan unik. Ketika dimasukkan ke dalam tanah, detektor akan mengeluarkan indikator bunyi. “Kalau suaranya pelan, itu artinya kandungan pupuk sangat sedikit atau malah tidak ada. Namun, kalau suaranya keras, bisa jadi tanah itu kelebihan pupuk,” tuturnya.

Hasil temuan Dede bentuk-bentuknya relatif sederhana, tetapi memberi manfaat langsung bagi petani, terutama yang sungguh-sungguh ingin menerapkan pertanian organik. “Banyak petani yang bilang sawahnya organik, tapi apa buktinya?”

Detektor pupuk organik dapat mendeteksi apakah kandungan pupuk dalam tanah adalah organik atau tidak. Ke dalam tanah di pot bunga, ia masukkan detektor yang memiliki dua batang logam itu. Sesaat kemudian detektor itu berbunyi nyaring. “Nah, ini berarti kandungan pupuk kimia tanah di pot ini cukup tinggi,” tuturnya.

Penelitian Dede cukup beragam sebab sudah dimulainya sejak masa sekolah menengah pertama. Dalam laboratorium mini berukuran 1 meter x 2 meter yang dibuatkan ayahnya, Dede dapat membuat telepon dari arang, motor listrik dari paku, dan turbin penghasil listrik.

Pada masa itu ia memang lebih menikmati berkutat dengan kesibukan penelitian ketimbang bermain-main di luar. Sang ayah pun tak sungkan membelikan peralatan atau buku-buku teknik untuknya.

Setamat S-2 Jurusan Agronomi, dengan kekhususan Ilmu Bioteknologi dari Universitas Andalas pada 1996, Dede lebih memfokuskan karya-karyanya pada teknologi bidang pertanian. Sebut saja karyanya, mulai dari penciptaan benih-benih organik, bioreaktor pembangkit pupuk cair organik, kompos luwing, pembasmi hama organik, serta teknologi penyiraman sekaligus pengusir hama. Ia juga menciptakan teknologi pengawet produk hasil panen, di antaranya lemari penyimpan sayur dan lumbung beras.

Mesin alam
Di samping rumah Dede, deretan empat drum fiber bercat hitam terpasang, menjadi sebuah mesin alam penghasil pupuk cair organik. Pupuk dinamainya “Jus Bumi”, sedangkan mesinnya disebut bioreaktor pembangkit pupuk cair (BPPC). Jus Bumi dan bioreaktor menjadi produk-produk andalannya karena banyak diminati, termasuk kalangan rumah tangga.

Dede semula hanya bermaksud membuat mesin untuk tempat perbanyakan dan pemeliharaan bakteri secara sederhana. Bahan baku pupuk didapatnya dari lingkungan sekitar rumah. Pada tabung uji cobanya ternyata muncul kontaminan lain berupa jamur. Semua bahan baku tersebut dengan cepat berproses menjadi cairan.

Ia melihat cairan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi sampah organik. Maka, kegagalan uji coba inilah yang menjadi awal keberhasilan membuat peralatan pengolah sampah menjadi cairan organik yang dibutuhkan petani atau pemilik kebun.

Sampah terurai secara kontinu dari padat menjadi cairan organik. Prinsip kerjanya disebut metode pengomposan linier. Potensi senyawa organik terkandung di dalamnya, seperti serat, karbohidrat, protein, lemak, asam amino, hormon tumbuh, vitamin, dan unsur hara. Kandungan tersebut dapat menjalankan sistem biogeokimia dalam tanah sehingga mikrobia bersifat menyuburkan.

Menggunakan metode ini, bahan organik sepadat apa pun, seperti tulang ayam atau tulang sapi, tetap dapat hancur dan menjadi cair. Satu kilogram sampah organik rumah tangga dapat menghasilkan pupuk cair sebanyak satu liter.

Bioreaktor semula gagal ditampilkan pada Pameran Teknologi Balitbangda Jambi karena fakultas tempat dia mengajar di Universitas Jambi, tidak mengeluarkan izin untuk pameran. Akan tetapi, teknologi tersebut akhirnya malah menjuarai lomba teknologi tepat guna (TTG) se-Jambi dan dipamerkan pada Pameran TTG Tingkat Nasional tahun 2006 di Samarinda.

Dede menyadari, penghargaan terhadap hasil temuan para peneliti di Indonesia masih minim. Bahkan hasil-hasil penelitian tersebut banyak yang tak dimanfaatkan. Oleh karena itu, ia mencoba sendiri untuk menerobos pemasarannya.

Dede mendaftarkan Tekno Martino menjadi merek atas semua produk temuan. Tekno Martino juga diajarkan kepada para penyuluh pertanian. Setidaknya, setiap hari ia tularkan kemampuannya kepada sekitar 400 penyuluh se-Sumatera di Balai Pengembangan SDM Pertanian, Jambi. Dari upaya ini ia berharap produksi hasil pertanian dapat makin meningkat.

Bagaimanapun, kepuasan akan menjadi lebih terasa saat hasil-hasil temuan ini bermanfaat sepenuhnya dan memberi kesejahteraan bagi penciptanya.

BIODATA

* Nama: Dede Martino

* Lahir: Jambi, 30 Mei 1965

* Pendidikan:
- S-1 Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Jambi
- S-2 Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Andalas

* Istri: Ir Yulma Erita (41)

* Anak:
- Gilang Muhammad (16)
- Galih Muhammad (16)
- M Irsyad (9,5)
- Muthia Azzahra (1,10)

* Karier:
- Pernah menjadi Kepala Laboratorium Bioteknologi Universitas
Jambi. Kini ia menjabat Manajer Sentral HAKI Pinang Masak
Universitas Jambi.
- Semua ciptaannya yang diberi nama Tekno Martino menjadi bahan
ajar bagi para penyuluh pertanian se-Sumatera di Balai
Pengembangan SDM Pertanian, Jambi.
- Alat Pemungut Spora Tunggal temuannya mendapat penghargaan
BPPT tahun 2004. Produk itu sudah dipatenkan.
- Bak sampah bioreaktor pembangkit pupuk cair mendapat Juara
Harapan I Tingkat Nasional tahun 2006 dari Depdagri.
- Pembuatan proses temuan kompos luwing tahun 2003 menjadi
skenario terbaik yang difilmkan oleh BPPT.

Sumber: Kompas
Penulis: Irma Tambunan