jump to navigation

Suwarman, Pranata Mangsa untuk Nelayan 09/09/2007

Posted by admin ppi-um in MOTIVASI.
trackback

link from http://www.kompas.com/ver1/Negeriku/0708/06/114927.htm

Setelah melakukan penelitian lapangan selama sekitar 11 tahun, Suwarman berhasil melahirkan tabel pranata mangsa, tata musim, yang dipakai sebagai acuan melaut oleh nelayan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dia melakukan penelitian itu karena sehari-hari akrab dengan nelayan dan berempati terhadap nasib mereka.

Impian Suwarman Partosuwiryo (47) yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Dinas Perikanan dan Kelautan DIY ini adalah membantu nelayan meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan pendapatan. Caranya, dengan memanfaatkan nilai-nilai kearifan lokal. Pranata mangsa tersebut menyediakan informasi lengkap yang berhubungan dengan musim penangkapan ikan.

Tak hanya memberi informasi tentang musim ikan, pranata mangsa juga membantu nelayan memilih alat tangkap yang harus digunakan untuk memeroleh tangkapan optimal.

Pranata mangsa tersebut dibuat ketika dia bekerja pada seksi penangkapan ikan. “Minimal sekali dalam sepekan saya ke pantai dan tempat pendaratan ikan. Saya lalu tertarik mengamati kondisi laut, mulai dari angin, cuaca, gelombang, hingga jenis ikan yang tertangkap,” ungkap Suwarman, Kamis (12/7).

Pengamatan itu lalu dia lakukan secara intensif sejak tahun 1989. Dari pengamatan lapangan, Suwarman melihat ada pola jenis tangkapan ikan yang terus berulang. “Sampai sekarang pola itu tidak berubah. Pakai ilmu titen atau niteni saja,” ungkapnya.

Dia sempat berusaha menambahkan data kecepatan angin dan gelombang dalam pengamatan itu. Namun, usaha itu dihentikannya setelah dua tahun dijalani karena keterbatasan waktu dan peralatan.

Pranata mangsa bikinan Suwarman berupa tabel yang berisi informasi tentang jenis ikan, tanda-tanda musim, alat tangkap, dan jangka waktu musim ikan berlangsung. Dalam tabel pranata mangsa tersebut terlihat saat ini di DIY sedang musim ikan tongkol, tuna mata besar, pari, cucut, tuna, madidihang, dan layaran.

Nelayan bisa memanen jenis ikan tersebut selama 41 hari dengan menggunakan jaring insang hanyut, rawai, jaring insang dasar, dan hand line. Tanda-tanda yang menyertai musim tersebut antara lain daun berguguran dan musim kemarau.

Ditempel di dinding
Bisa dikatakan semua kelompok nelayan di DIY kini telah memakai pranata mangsa bikinan Suwarman sebagai panduan melaut dan menentukan alat tangkap. Bahkan, 19 kelompok nelayan di DIY melapisi lembar pranata mangsa dengan plastik dan memajangnya di dinding agar mudah dilihat sebelum melaut.

Suwarman mengaku pranata mangsa itu belum sempurna. Dia masih meminta masukan dari nelayan terkait keakuratan pranata mangsa. “Evaluasi dari kalangan nelayan ternyata tak ada perubahan jenis ikan tangkapan. Pranata mangsa itu cocok dan masih relevan sampai sekarang.”

Bahkan, gempa bumi yang melanda DIY tahun 2006 lalu tak berpengaruh pada jenis tangkapan ikan. Bencana gempa itu justru mengakibatkan proses pengadukan air laut sehingga jumlah ikan semakin banyak.

Menurut Suwarman, tak ada musim paceklik ikan bagi nelayan. Keluhan nelayan bahwa ikan sedang sedikit hanya karena mereka tak tahu alat tangkap yang tepat pada musim tersebut. Mayoritas nelayan hanya memiliki satu macam alat tangkap ikan. Padahal, tiap musim itu menghadirkan jenis ikan tertentu dan diperlukan alat tangkap khusus yang sesuai.

Kekayaan ikan di DIY terutama adalah ikan jenis tongkol, tenggiri, bawal, manyur, tiga wajah, dan cucut. “Produksi ikan tiap bulan merata. Tinggal bagaimana kemampuan nelayan untuk menyediakan alat tangkap yang sesuai,” katanya.

Pranata mangsa tersebut juga pernah disampaikannya dalam forum pertemuan nelayan tingkat nasional. Suwarman mengimbau agar tiap provinsi memiliki pranata mangsa dengan ilmu titen (hafalan yang didasarkan pada pengalaman) karena sangat bermanfaat bagi nelayan. Apalagi, pendidikan mayoritas nelayan masih rendah sehingga mereka membutuhkan panduan.

Dari gabungan pranata mangsa di tiap daerah akan bisa terlihat potensi perikanan laut di Indonesia. Dari ilmu titen diharapkan pranata mangsa bisa menjadi kajian lebih lanjut.

Kearifan lokal
Selain digunakan oleh nelayan, pranata mangsa juga dipakai untuk pembelajaran kearifan lokal di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Selain membuat pranata mangsa, Suwarman juga menjadi pengajar di Akademi Perikanan Yogyakarta dan untuk mahasiswa Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian UGM.

Suwarman jatuh cinta pada perikanan setelah kuliah di Akademi Usaha Perikanan Jakarta. Awalnya, dia ingin menjadi dokter hewan. Namun, anak buruh tani ini tak punya cukup uang untuk mewujudkan impiannya.

Keterikatan Suwarman dengan nelayan DIY dimulai sejak tahun 1982. Kala itu dia termasuk salah seorang yang aktif memberikan kursus untuk menciptakan nelayan di DIY. Sebelum diadakan kursus, tak seorang pun warga DIY yang berprofesi sebagai nelayan.

Dia aktif ikut “membuat nelayan” dengan mengajari para petani tegalan beralih profesi menjadi nelayan. Kursus tersebut mulai dari teori di kelas hingga mengajari mereka cara menebar jaring dan menangkap ikan di laut lepas.

Pelatihan pertama hanya diikuti sekitar 30 petani tegalan. Kini DIY punya sekitar 1.800 nelayan yang aktif melaut. Ini belum termasuk mereka yang melaut sebagai pekerjaan sampingan. Kursus menjadi nelayan pertama kali dilakukan di Pantai Samas kemudian merambah ke Baron, Sadeng, Trisik, Glagah hingga Gesing.

Warga Yogyakarta, kata Suwarman, mulai berani melaut setelah Sultan Hamengku Buwono IX yang kala itu menjadi wakil presiden berpesan agar rakyat tak hanya melihat ke utara (Gunung Merapi). Mereka juga harus melihat ke selatan (Laut Selatan).

Meski nenek moyang masyarakat DIY bukan pelaut, mereka bisa tumbuh menjadi nelayan tangguh. Penyerapan tenaga kerja pada sektor perikanan tangkap di daerah itu sekitar 46.000 orang.

“Kini mereka percaya bahwa penguasa Laut Selatan sudah bersahabat dengan warga Yogya sehingga makin banyak orang yang berani melaut,” ucap Suwarman.

Baru sekitar dua dekade warga DIY mengenal perikanan dan kelautan. Tak heran jika konsumsi ikan di DIY termasuk terendah di Indonesia, yaitu 13,12 kilogram per kapita per tahun. Namun, Suwarman yakin nelayan DIY akan semakin maju.
Biodata

Nama: Suwarman Partosuwiryo
Lahir: Karanganyar, 11 Juli 1960
Istri: Sri Hartini (43)

Anak:
1. Hermawati Nur Indah Rianingsih (22)
2. Meidah Rositasari (18)
3. Rahma Fitria Larasati (14)

Jabatan:
Kepala Bidang Bina Program Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi DIY

Pendidikan:
– SD Negeri Kemiri I, lulus 1972
– SMP Negeri Kebakkramat, lulus 1975
– SPMA Negeri Yogyakarta, lulus 1978
– D III Diklat Akademi Usaha Perikanan (AUP) Jakarta, lulus 1982
– D IV Diklat AUP Jakarta, lulus 1990
– Program Magister Manajemen STIE Mitra Indonesia Yogyakarta, 2002

Sumber: Kompas
Penulis: Mawar Kusuma

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: