jump to navigation

Soekarno – Sejarah yang tak memihak 06/02/2008

Posted by admin ppi-um in Catatan pinggir.
trackback
Soekarno - Sejarah yang tak memihak

Posted by Iman Brotoseno under: SEJARAH; SOEKARNO .

 

Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam
ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel
goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai
Presiden Soekarno. Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah
menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik
mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua
saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara
langsung jenasah Soekarno.


Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan
Bapak ( almarhum ) sedang menangis sesenggukan.
" Pak Karno seda " ( meninggal )
Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso.
Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3
truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). Saat itu memang Angkatan
Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno.

Jenderal KKO Hartono - Panglima KKO - pernah berkata ,
" Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah
kata KKO "

Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk
turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral
Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa
divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan
panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.

Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia
tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah
dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan
membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah.


The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun
menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Soekarno harus meninggalkan
istana pindah ke istana Bogor . Tak berapa lama datang surat dari
Panglima Kodam Jaya - Mayjend Amir Mahmud - disampaikan jam 8 pagi
yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang.
Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang
barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang
barang lain semuanya ditinggalkan.


" Het is niet meer mijn huis " - sudahlah, ini bukan rumah saya lagi ,
demikian Bung Karno menenangkan istrinya.


Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis
sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso.
Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie
diasingkan menjadi dubes di London . Jendral KKO Hartono secara
misterius mati terbunuh di rumahnya.

Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu belum banyak
yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri. Tak tahu apa mereka
masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. Di ruangan
kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya
dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan
mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta dan Ali Sadikin - Gubernur Jakarta -
yang juga berasal dari KKO Marinir.


Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta
baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak.
Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh
dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya
termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam
dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan
jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman
belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !.
Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet
di lantai di ruang tengah.


Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah,
sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang
lain.


Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan
jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeingan agar kelak
dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor . Pihak militer tetap tak mau
mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu
kota.


Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan
terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini.

Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa,
" Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso.
Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul
mukul meja dan memaksakan jawaban. Akibat perlakuan kasar terhadap
Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan
pengobatan yang seharusnya diberikan. "

( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 )

dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung
Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter
Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang
diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi
penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat
yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan.

( Kompas 11 Mei 2006 )

Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut,
" Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana
Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi dari Kowad
"

( Kompas 13 Januari 2008 )

Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden
Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan
canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela
yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. Sekalipun
Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan
ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus
menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden !

Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah
sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan
munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika
justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ? Kisah tragis
ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi
hakiki karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam
membisu. Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan
benar atau salah.


Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif.
Kesadaran adalah Matahari
Kesabaran adalah Bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Keterbukaan adalah pelaksanaan kata kata
( * WS Rendra )

Sebab kehidupan tidak berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa
lampau.
--Khalil Gibran--

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: