jump to navigation

International Food Fair and Cultural Exhibition 2008 18/06/2008

Posted by admin ppi-um in Aktivitas PPI UM.
trackback

BUDAYA DAN MASAKAN KHAS INDONESIA DI ARENA PAMERAN INTERNASIONAL TAHUN 2008

(dari catatan singkat tim pelaksana International Food Fair and Cultural Exhibition)

Tak sedikit pun bisa dibantah bahwa mahasiswa Indonesia di Universiti Malaya punya eksistensi yang lebih dibanding beberapa “klan” mahasiswa-mahasiswa Internasional asal berbagai negara yang sangat terkenal dengan kemajuan budayanya; seperti Yaman, Arab Saudi, Negeria, Sudan, Cina, dan lain-lain. Hal ini betul-betul nampak ketika IPS UM melalui UMISA menggelar program annualnya berupa “International Food Fair and Cultural Exhibition”, yang berlangsung pada tanggal 3-4 Juni, di Perdana Siswa. Jika kita selidiki, apa yang menunjukkan keunggulan itu menjadi ada, bermakna dan bagaimana hal itu bisa terjadi, maka sedikit penjabaran pun mendesak untuk dielaborasi. Tujuananya adalah, agar acara itu dapat diapresiasi lagi lebih dalam di masa-masa mendatang oleh semua elemen masyarakat Indonesia di UM.
Seperti diketahui, Samheri, seorang kader PPI UM yang seminggu sebelumnya disibukkan dengan persiapan kongres PPI Malaysia lantaran ia dipercaya konvensi untuk maju sebagai calon ketua PPI Malaysia, masih sempat-sempatnya membincangkan tawaran IPS untuk ikut serta dalam pameran makanan dan budaya Internasional itu. Selain untuk menghormati tradisi, menghargai perjuangan senior-senior PPI UM yang ada di UMISA juga tidak bisa dinafikan. Oleh karena itu, dengan cekatan Samheri segera menghubungi Edward dan Dimyati, teman dekat di hatinya, untuk segera berancang-ancang terjun ke acara ini.
Sejurus kemudian, rapat pun segera dihelat di depan Kafetaria Perdana Siswa (2/6). Hadir di rapat mendadak itu adalah mas Dimyati, mas Samheri, mas Alfia Farma (Bung If), Pak Nurul Haq, mas Masrur, mas Edward, mbak Izzah, dan mbak Mardiyah. Karena pelaksanaan tidak lagi bisa dihitung dengan hari, melainkan jam, maka kerja taktis pun perlu ditempuh. Pembagian tugas dan langsung terjun ke arena menjadi ujung tombak kerja mereka dan sepertinya itu memacu semangat mempersiapkan semuanya.
Etos kerja, alias semangat tim ini, tidak abra kadabra ada. Ia juga dipacu oleh semangat para senior yang juga men-support terlaksananya acara yang tinggal menghitung jam itu. Sekedar menyebut sebagian dari mereka, Dr. Ali Berawi, penasehat PPI UM, mengikhlaskan diri mobilnya dipinjamkan untuk mengambil barang-barang kebudayaan Indonesia di KBRI. Budianto Hamudin, salah satu mantan pengurus yang berpengaruh tahun sebelumnya, menyisihkan waktunya untuk bantu-bantu dan sedikit memberi trik sebagaimana ia alami tahun lalu. Atau, ini tak boleh terlupakan, Bang Abdi, Kak Aliya dan kak Linda, telah memperjuangkan space stand cantik untuk PPI UM buat menggelar karya kebudayaan dan makanan khas Indonesia. “Ribuan terima kasih kami ucapkan kepada mereka,” kata koordinator tim.
Untuk memperkokoh kerja tim ini, mahasiswa-mahasiswi undergrade (S1) sengaja diajak. Tidak hanya untuk diminta tenaganya, tapi agar kedekatan sesama warga PPI dan ke-Indonesiannya semakin kokoh dan tangguh. Ternyata, adik-adik kita ini tidak saja menyumbangkan tenaga tapi mampu memperagakan perlengkapan kebudayaan yang diimpor dari KBRI itu. Bahkan, salah satu pengurus, Edward Hamdi, harus belajar kepada adik-adik ini bagaimana memakai pakaian adat yang benar. “Luar biasa adik-adik S1 ini,” bisik-bisik salah satu pengurus. Mereka yang terlibat dalam acara ini antara lain seperti dek Rayinda dan dek Monic, thanks ya dek atas bantuannya.
Di stand kebudayaan, PPI UM mendapat apresiasi yang spektakuler. Lantaran background stand dihias dengan batik tangan halus, yang sengaja dipesan dan didatangkan dari pulau kecil di ujung Jawa Timur, Madura, yang merupakan bagian kecil dari karya-karya besar batik cantik Indonesia. Maka terdengarlah pujian-pujian dan terlihat decak kagum dari tokoh-tokoh besar kampus ini manakala serombongan mereka setapak demi setapak melewati display kebudayaan PPI UM, sembari berkata, “Wah, ni lah the real batik dan Indonesian culture. Excellent!” Kekaguman nampaknya belum selesai dan mengajak melihat sisi-sisi lain dari stand yang eksentrik itu. Para pengunjung pun akhirnya bertanya-tanya, mencari penjelasan lebih jauh, bahkan mencoba-coba alat-alat kebudayaan yang ada di sana. Hebatnya, penjaga stand tidak sekedar mematung, namun mampu melayani semua soalan pengunjung, mengenai alat musik, objek wisata (visit Indonesia 2008), produk kebudayaan. Satu contoh lagi yang membanggakan, bahwa di
antara alat musik ada seruling sunda yang tentunya sangat familiar bagi mahasiswa-mahasiswa asal sunda ini. Spontan Imron, mahasiswa Master Usuludin API, memainkannya dengan cantik dan menghibur pengunjung.
Itu yang terjadi di pameran kebudayaan. Bagaimana dengan pameran makanan? Dengan kerja cerdas, cepat, dan akurat,  makanan khas Indonesia lebih awal siap kalau dibanding dengan stand-stand tetangganya. Masakan beragam pun dibentang. Tak kurang dari Sate Madura, Bakso Malang, Nasi Padang, Soto Jawa, Nasi Pecel ditambah dengan minuman khas teh Sosro dipamerkan. Bukan bertujuan membuat orang ngiler (meminjam bahasanya bung If di publikasi acara ini), tapi untuk lebih memberikan keyakinan kepada dunia bahwa di bidang makanan Indonesia mempunyai keunggulan. Rombongan pak Mad beserta kru-nya – juru masak yang didatangkan dari Kayuara, Damansara, dari restoran “Maduratna”– telah bekerja sedemikian rupa untuk menyukseskan pameran ini.
Sebagaimana diprediksi sebelumnya, masakan Indonesia menjadi buruan pengunjung, utamanya Bakso dan sate Madura. Mbak Lesti, salah satu tokoh perempuan di PPI UM, yang dengan senang hati membantu memenej keuangan (kasir), merasa kerepotan melayani membludaknya pembeli makanan. Itu hari pertama. Hari kedua lebih lagi, manakala mas Dimyati yang menjadi kasir terpaksa menggunakan “tangan seribu” untuk melayani keluar masuknya uang.
Ada yang menarik dari stand makanan. Sejak dibukanya hari pertama hingga hari kedua, ada kelompok ibu-ibu cleaning service yang sejak awal sudah ingin segera mendapatkan masakan Indonesia ala PPI UM. Katanya mereka rindu kampung halaman. Sudah bertahun-tahun di Malaysia menjadi petugas kebersihan. Rindu mereka membuncah dan dilampiaskan untuk melahap masakan khas negara tercintanya. Rupanya, yang rindu masakan Indonesia bukan saja kelompok ini. Selain senior-senior PPI UM terjun sendiri, orang-orang Melayu, India, Cina, bahkan dari Arab juga ikut ambil bagian menikmati masakan lezat kita. Salah satu pembeli yang bermuka Cina ditanya oleh Dimyati mengapa memilih masakan Indonesia. “It is outrageously delicious,” pungkasnya.
Sementara itu, Mukhlis Ilmi, alias Bambang Pamungkas, telah menyumbangkan lagu Dangdut di pentas yang sengaja disediakan pihak panitia. Suara pun menggema menari-nari di sela-sela telinga pengunjung. Tak bisa dielakkan lagi tepuk tangan pun membahana. Acungan jempul cukup pantas bagi mantan ketua PPI UM ini, karena telah berani dan ikhlas memastikan Dangdut, lagu khas Indonesia, berpatri di hingar-bingarnya acara itu.
Akhirnya, acara ini berakhir dengan kepuasan dan keceriaan di muka tim pelaksana dan seluruh masyarakat PPI UM yang secara ikhlas mencurahkan waktunya untuk menyukseskan acara tersebut. Penat, capek dan pengorbanan waktu tidak bisa dibayar dengan materi. Tetesan keringat siapa saja yang terlibat dalam acara ini hanya Allah yang Maha Tahu apa yang sesuai nan pantas untuk balasan semua itu. Kebersamaan dan pembuktian eksistensi mahasiswa-mahasiswa Indonesia di UM, yang mewakili suara bangsa Indonsia, mempunyai makna yang mulia dan urgen bagi PPI UM ke depan. Sukses untuk acara berikutnya!

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: