jump to navigation

Saman Mirah Puteh: Tim Tari Saman Kebanggaan PPIUM 28/05/2012

Posted by admin ppi-um in Aktivitas PPI UM, MOTIVASI.
7 comments

Ya Allah ti waktu Naggroe bule ji pute

Ji put de side Aceh mulia

Lam Pancasila kale metule

Bule melape burung Garuda

Nanggroe Aceh… Pancasila… Garuda… Inilah kebanggaan yang bisa dipetik dari sebait lirik lagu Tari Saman. Kebanggaan akan Nanggroe Aceh Darussalam, provinsi asal “tari seribu tangan” tersebut. Kebanggaan terhadap Pancasila, dasar negara. Kebanggaan akan Garuda, lambang suci Indonesia.

Assalamualaikum dan salam sejahtera.

Salam pelajar Indonesia,

Pengurus dan anggota Persatuan Pelajar Indonesia Universiti Malaya (PPIUM) patut berbangga mempunyai tim tari Saman yang sudah terkenal seantero Malaysia. Tim besutan Mirratu Isyroh Alam (Ratu), gadis Palembang berdomisili di Depok yang getol melatih Tari Saman dari kampus ke kampus itu telah memenangi beberapa kejuaraan dan diundang ke puluhan acara amal dan resepsi pernikahan. Saman Mirah Puteh (SMP), begitulah nama tim yang pada awalnya hanya beranggotakan sepuluh orang, termasuk Ratu, kini sudah berusia empat tahun.

Mengimbas kembali pada tahun 2009 silam ketika pengurus PPIUM di bawah pimpinan Bang Syamsuri Afjar memutuskan untuk mengadakan Indonesian Cultural Exhibition, ketika itulah Saman Mirah Puteh terbentuk. Dengan beranggotakan 10 orang termasuk sheikh (penyanyi), SMP tampil di Malam Indonesia dalam rangka Indonesian Cultural Exhibition 2009 untuk pertama kalinya. Tim yang awalnya dianggotai Pramadita Eka Putri (Eka), Nadia Amalina Saptari (Nadia), Istiadah (Iis), Nanda Eka Wahyuni (Yuyun), August Jenifer (Jenny), Mawaddah (Adah), Lily El Ferawati (Lily), Amelia Sastina (Lia), dan Dian Sandri (Dian) serta penyanyi bersuara merdu yang merangkap pelatih, Mirratu Isyroh Alam (Ratu), berhasil membuat penonton terpukau malam itu.

Setelah Indonesian Cultural Exhibition, SMP tampil di Malam Puisi untuk Gaza yang diadakan oleh pelajar Department of Media Studies, University of Malaya (UM) dan Malam Penggalangan Dana untuk Korban Gempa Padang atas undangan Unesco Club UM. Dari acara charity, SMP merambah ke tahap profesional ketika tampil di acara resepsi pernikahan putri sulung Ketua Unesco Club UM. Penampilan perdana di acara megah tersebut membuahkan penghasilan yang lumayan bagi para Samaners Mirah Puteh.

Saman Mirah Puteh, kemudian mendapat gelar juara untuk pertama kalinya ketika tampil di “The University of Malaya International Cultural Festival 2009”. Tampil dengan sembilan orang, tanpa  Ratu, SMP berhasil menyabet Juara Pertama pada acara yang pertama kali diadakan untuk pelajar international tersebut.

Masih di tahun yang sama, pada bulan Oktober, SMP ditunjuk sebagai wakil UM di acara “One World Culture” yang diadakan di Nilai University College, Nilai, Negeri Sembilan. Ajang tahunan yang mempersatukan pelajar international se-Malaysia untuk mempersembahkan budaya negara masing-masing melalui tarian dan lagu tersebut merupakan tapak pertama SMP menerima gelar international setelah dinobatkan sebagai the first Runner Up dan membawa pulang uang sejumlah Ringgit Malaysia (RM) 5oo.

Pada tahun berikutnya, masih di acara dan di kampus yang sama, SMP sukses menyabet gelar Champion dan membawa pulang tropi serta uang sebesar RM1,000. Ini merupakan prestasi paling membanggakan bagi Samaners SMP terutamanya, dan PPIUM serta UM pada umumnya. Bahkan, para Samaners SMP sendiri menyebutnya sebagai “Saman Kemenangan”. Tidak hanya juara di One World Culture 2010, SMP juga sekali lagi juara di “The University of Malaya International Culture and Food Fair 2010” yang merupakan festival yang sama dengan “The University of Malaya International Cultural Festival 2009”.

Berita kemenangan Tim Saman Mirah Puteh di One World Culture 2010

Selain Saman Kemenangan, persembahan yang tidak kalah menarik yang pernah dipersembahkan oleh SMP adalah persembahan Saman-terpanjang-yang-pernah-ditampilkan-pelajar-Indonesia-di-luar-negara melalui Saman 80 yang diadakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia Multimedia University (PPIMMU) Cyberjaya, Malaysia. Persembahan yang merupakan inti dari acara “Semarak Warna Khatulistiwa: Indonesian Exhibition ’10” itu diikuti oleh 80 penari Saman dari sepuluh kampus di Malaysia, antaranya UM, MMU Cyberjaya, Limkokwing University of Creative and Technology, INTI College, Universiti Utara Malaysia, Sunway University, Monash University, Cosmopoint, Kuala Lumpur Metropolitant University (KLMU), dan Raffles International College.

Saman 80 di “Semarak Warna Khatulistiwa: Indonesian exhibition” oleh PPI Multimedia University

Setelah penampilan di Saman 80 ini, SMP mengalami regenerasi karena beberapa anggotanya, yaitu Yuyun, Lia, Iis, Dian dan Nadia sudah menamatkan pendidikan di UM. Untuk itu, Ratu sebagai pelopor SMP merekrut anggota baru yang terdiri dari Karine Raviena (Kai), Febriani Asukatumi (Febri), Amira Nadaviana (Davia), Evi Karlina Ambarwati (Evi), Dwi Riska Zulkia (Dwi-Riska), Arwita Widyanti (Wita), Umu Nahdiya (Umu), dan Dwi Novinna Lestari (Dwi). Dengan anggota dan formasi baru ini, SMP tampil dalam beberapa acara seperti Silaturahim PPI Malaysia di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, Santai Petang yang diadakan oleh Permodalan Nasional Berhad, University of Malaya International Night, Resepsi pernikahan anak petinggi partai UMNO selama tiga hari, Malam Puisi dalam rangka Bulan Bahasa 2012, dan banyak lagi.

Regenerasi SMP masih berlanjut karena beberapa Samaners lama tidak lama lagi akan meninggalkan bangku kuliah di UM. Regenerasi kali ini merupakan perombakan total di mana hampir semua anggotanya adalah orang-orang baru. Para Samaners lama yang kini dikenal sebagai “The Seniors” benar-benar menyerahkan tahtanya kepada anggota SMP yang baru yang juga disebut “The Juniors”. Tidak tanggung-tanggung, mereka semua berjumlah 21 orang termasuk 19 penari, seorang sheikh, dan seorang penggendang. Uniknya, di antara 19 penari tersebut, 9 daripadanya adalah laki-laki. Begitupun dengan sheikh dan penggendangnya, juga laki-laki. Mereka adalah M Megasuryo Firdaus (Ega), Firmansyah Shidiq Wardhana (Firman), Jaka Ramadhan (Jaka), Rizki Zaskia Hilmy (Rizki), Mochamad San Rego Tecton (San-Rego), Gilang Ramadhan (Gilang), Adrian V Samyudia (Adre), Ahmad Riyadhi Rachman (Yadhi), Nisrina Fakhriati (Rina), Devi Aggraeni Poetri (Devi), Puri Rahmawati (Puri), Agustina (Tina), Kotrun Nada (Nada), Ellvis Saputri (Ellvis), Wahyuni Suci Lestari (Suci), Ananda Maharani (Amy),  Addina Hadi (Dina) dan Risky Malano (Malano), serta N Fajri Usman (Fajri) sebagai sheikh, Adrian Dignitya Marbun (Marbun) sebagai penggendang dan seorang Samaner lama, Davia.

Mereka berlatih secara intensif di bawah naungan “The Seniors” yang dipimpin oleh Ratu dan dibantu secara khas oleh Febri, Dwi, Lily, Kai, Adah, Dinda, Evi, Jenny, Umu, dan Eka.  Setelah sebulan lebih berlatih, akhirnya “The Juniors” tampil perdana pada acara “The University of Malaya International Culture and Food Fair 2012” Jumat, 25 Mei lalu. Tampilan memukau para Samaners muda ini berhasil menggetarkan jiwa lebih dari dua ratus penonton yang memadati Auditorium Kompleks Perdanasiswa, University of Malaya. Bahkan, Ratu, sang pelatih, menitikkan air mata saking terharunya.

“The Juniors” tampil memukau di “The University of Malaya International Culture and Food Fair 2012”

Persembahan “The Juniors” tidak berhenti di situ karena sehari setelahnya, mereka diundang untuk membuat persembahan di K@UM atau Kampung Seni Universiti Malaya. Pagi hari berikutnya, mereka terpaksa berlatih keras dengan formasi baru untuk 15 penari saja karena beberapa penari tidak bisa ikut serta atas alasan tertentu. Formasi baru dengan 15 penari dan seorang sheikh ini dipersiapkan untuk tampil di acara penutupan Himpunan Sejuta Belia (acara tahunan Kementerian Pemuda dan Olah Raga Malaysia) yang jatuh pada hari Minggu, 27 Mei 2012, di Putrajaya.

Tampil selama tiga hari berturut-turut rupanya membawa kenangan pahit dan manis bagi para “The Juniors” dan “The Seniors”. Latihan penuh drama setiap hari Jumat selama sebulan lebih ditambah kenyataan harus tampil empat kali selama tiga hari membuat mereka keletihan. Namun semua perjuangan itu terbayar dengan rasa kebersamaan dan berbagi antara satu sama lain. Yang tidak kalah penting, persembahan mereka tidak cuma-cuma. Bayaran yang lumayan dari pihak penyelenggara setiap event di mana mereka tampil dapat dinikmati dalam satu sesi makan bersama di restoran pizza Domino’s, Pantai Hillpark. Senior dan junior, laki-laki dan perempuan, berbaur jadi satu dalam indahnya kebersamaan yang dimulai dari kecintaan terhadap titipan daerah, budaya nasional, warisan dunia UNESCO, apalagi kalau bukan Tari Saman.

Semoga rasa kebersamaan yang membangkitkan nasionalisme ini tidak hanya berhenti di sini saja. Tari Saman Mirah Puteh, PPIUM, Indonesia, semoga tetap kekal di hati kita semua.

Oleh Lily El Ferawati, Ketua Departemen Informasi dan Komunikasi PPIUM 2011/2012 .

Advertisements

Heydiaspora: Media berbagi PPI Singapura yang asyik 24/04/2012

Posted by admin ppi-um in MOTIVASI, PPI DUNIA.
add a comment

Salam pelajar Indonesia

Kira-kira teman-teman PPIUM yang suka baca posting di blog PPIUM ada berapa ya? Pasti tidak sampai ribuan kan? Ini karena blog PPIUM kurang asyik atau nggak asyik sama sekali? Admin mengakui kok kalau blog kita ini sedikit old-fashioned. Coba blog PPIUM bisa sekeren website Heydiaspora, pasti teman-teman PPIUM rajin buka blog ini bahkan mau kontribusi tulisan.

Hari ini admin resmi mengambil alih akun twitter @PPIUM dari admin sebelumnya dan berjelajah untuk mencari rekan PPI lain di dunia yang juga mempunyai akun twitter. Kemudian bertemulah admin dengan akun twitter @heydiaspora. Admin @heydiaspora pun mengajak kawan-kawan PPIUM untuk kontribusi di website mereka. Admin pun mengunjungi website Heydiaspora dan takjub dengan tampilan serta isi website tersebut.

Heydiaspora merupakan majalah online yang dikelolah oleh sekumpulan pelajar Indonesia di Singapura di bawah naungan PPI Singapura. Konsepnya unik, yaitu sebagai wadah berbagi cerita oleh pelajar-pelajar atau warga Indonesia di Singapura. Tulisan yang di-post tidak harus berkaitan dengan dunia akademik dan hal-hal formal lainnya. Intinya Heydiaspora ini dijadikan tempat sharing oleh komunitas diaspora Indonesia yang berada di Singapura. Topik yang dibahas di majalah online ini sangat menarik seperti tempat makan dan jalan-jalan, photojournalism, budaya internet, isu sosiopolitik, dan seputar kehidupan di kampus. Tampilan websitenya juga sangat menarik: simple tetapi informatif.

Pertama kali admin berkunjung ke website Heydiaspora admin merasa tertarik untuk membaca apa yang ada di situ. Ini karena topik yang mereka bahas tidak membosankan dan sangat dekat dengan kita sebagai kawula muda. Ada beberapa tulisan yang mengulas konser artis atau band terkemuka Tanah Air seperti Maliq & D’Essentials dan White Shoes & the Couples Company. Ada juga tulisan yang mengulas tentang buku. Tidak hanya itu, isu sosial dan politik yang lagi hangat di Indonesia seperti demonstrasi anti-BBM akhir bulan Maret lalu juga turut diulas. Pokoknya menarik deh.

Nah, melihat website Heydiaspora yang begitu menarik, admin berinisiatif untuk mengembangkan blog PPIUM ini supaya bisa semenarik website Heydiaspora, atau minimal lebih bagus dari blog yang sekarang. Untuk itu admin mengajak kawan-kawan PPIUM yang jago mendesain website atau blog untuk merombak tampilan blog PPIUM ini. Dalam dua minggu terakhir admin sudah mencoba mengotak-atik dashboard blog ini tetapi tidak berhasil membuat perubahan berarti karena minimnya pengalaman mengelolah blog berdomain wordpress. Admin juga ingin mengajak kawan-kawan yang gemar menulis untuk menyumbangkan tulisannya agar dapat di-post di blog kita tercinta ini. Tulisan bisa disampaikan dalam Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia. Topik tulisannya terserah asal menarik untuk dibaca dan bermanfaat khususnya bagi pelajar-pelajar Indonesia di Universiti Malaya atau di Malaysia umumnya. Tulisan yang menarik dan berkualitas akan dikirim untuk diterbitkan di Heydiaspora juga loh.

Jadi, tunggu apa lagi? Mari kita bersama memajukan blog PPIUM dengan senantiasa mengunjungi serta memberi komentar dan menyumbang tulisan. Harapannya, semoga blog PPIUM ini benar-benar bisa dijadikan wadah untuk berbagi informasi dan berkomunikasi antara pelajar-pelajar Indonesia di Universiti Malaya dan di seluruh Malaysia, bahkan dunia.

Oleh: Lily El Ferawati, ketua Departemen Komunikasi dan Informasi PPIUM 2011/2012

Say “Yes” to Gambaru 18/03/2011

Posted by admin ppi-um in MOTIVASI.
add a comment

share dari milis tetangga

Say YES to GAMBARU!

By Rouli Esther Pasaribu

Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan. Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu : motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama) , motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi). Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru. Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya…berhenti aja.

Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya : “doko made mo nintai shite doryoku suru” (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan) Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter “keras” dan “mengencangkan”. Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah “mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu” (maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.).

Terus terang aja, dua tahun gw di jepang, dua tahun juga gw ngga ngerti, kenapa orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya. Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37 derajat mah ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri. Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw ngos2an kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo! (mama ayo berjuang, mama ayo fight!). Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah penghabisan it’s a must!

Gw bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di jepang bagian timur. Gw tau, bencana alam di indonesia seperti tsunami di aceh, nias dan sekitarnya, gempa bumi di padang, letusan gunung merapi….juga bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi. Tapi, tsunami dan gempa bumi di jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia. Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat jepang panik kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai ngerasa galau, nangis2, ga tau mesti ngapain. Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa “dimaafkan” jika stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan. Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan. Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini? Dari hari pertama bencana, gw nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala ebiet diputar di stasiun TV. Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana alam. Video klip tangisan anak negeri juga gw tunggu2in. Tiga unsur itu (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), sama sekali ngga disiarkan di TV. Jadi yang ada apaan dong? Ini yang gw lihat di stasiun2 TV :

1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada

2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)

3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana

4. Tips-tips menghadapi bencana alam

5. nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam

6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana

7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai banget harganya)

8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati

9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :

*ada yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget, tapi tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)

*Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu, kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini; Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas.

Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana ala gambaru kayak gini, gw bener-bener merasa malu dan di saat yang bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang. Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas banget, negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental sekuat baja, karena : falsafah gambaru-nya itu. Bisa dibilang, orang-orang jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dalam hidup. Bener banget, kita mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan. Hanya, mental yang apa-apa “nyalahin” Tuhan, bilang2 ini semua kehendakNya, Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput yang bergoyang… ..I guarantee you 100 percent, selama masih mental ini yang berdiam di dalam diri kita, sampai kiamat sekalipun, gw rasa bangsa kita ngga akan bisa maju. Kalau ditilik lebih jauh, “menyalahkan” Tuhan atas semua bencana dan persoalan hidup, sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani bertanggungjawab terhadap hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup. Jika diperjelas lagi, ngga berani bertanggungjawab itu maksudnya : lari dari masalah, ngga mau ngadepin masalah, main salah2an, ngga mau berjuang dan baru ketemu sedikit rintangan aja udah nangis manja.

Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan, untuk apa gw menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada gunanya, kalo mau S2 atau S3 mah, ya di eropa atau amerika sekalian, kalo di Jepang mah nanggung. Begitulah kata beliau. Sempat terpikir juga akan perkataannya itu, iya ya, kalo mau go international ya mestinya ke amrik atau eropa sekalian, bukannya jepang ini. Toh sama-sama asia, negeri kecil pula dan kalo ga bisa bahasa jepang, ngga akan bisa survive di sini. Sampai sempat nyesal juga,kenapa gw ngedaleminnya sastra jepang dan bukan sastra inggris atau sastra barat lainnya. Tapi sekarang, gw bisa bilang dengan yakin sama sanak keluarga yang menyatakan ngga ada gunanya gw nuntut ilmu di jepang. Pernyataan beliau adalah salah sepenuhnya. Mental gambaru itu yang paling megang adalah jepang. Dan menjadikan mental gambaru sebagai way of life adalah lebih berharga daripada go international dan sejenisnya itu. Benar, sastra jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di mana saja. Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang abis-abisan biar udah ngga ada jalan, gw rasa, salah satu tempat yang ideal untuk memahami semua itu adalah di jepang. Dan gw bersyukur ada di sini, saat ini. Maka, mulai hari ini, jika gw mendengar kata gambaru, entah di kampus, di mall, di iklan-iklan TV, di supermarket, di sekolahnya joanna atau di mana pun itu, gw tidak akan lagi merasa muak jiwa raga.

Sebaliknya, gw akan berucap dengan rendah hati : Indonesia jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte, kokoro kara kansha itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni, gambaru seishin wo mi ni tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu. (Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan berjuang tiap hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya, orang-orang Jepang).

Say YES to GAMBARU!

Semoga tetap semangat terus saling bahu membahu..

Institut Teknologi Bandung