jump to navigation

Press Release PPI-Malaysia mengenai kasus TKI di Malaysia baru-baru ini 22/11/2012

Posted by admin ppi-um in Forum Pemikir, POJOK DISKUSI, PPI DUNIA, Speak UP.
add a comment

AKHIRI LUKA HATI INDONESIA!

Indonesia dan Malaysia kini dihadapkan kembali pada isu dan peristiwa yang mengusik ketenangan bersama. Berulangnya peristiwa yang melukai perasaan warga Indonesia baru-baru ini, telah meruncingkan kembali hubungan diplomatik dan memanaskan kembali situasi emosional bangsa Indonesia sebagaimana yang tersiar di berbagai media. Persoalan serius tersebut telah memunculkan reaksi keras dari masyarakat di Indonesia lewat aksi protes dan pelayangan tuntutan yang ditujukan kepada pihak Malaysia. Respon serius Malaysia tengah ditunggu semua pihak dalam bentuk penyelesaian hukum atas kasus yang diperbuat oleh warga Malaysia itu dengan segera, tuntas, dan setimpal tanpa menyisakan kekecewaan lagi sebagaimana buruknya historis penyelesaian konfrontasi IndonesiaMalaysia selama ini.

Persatuan Pelajar Indonesia se-Malaysia (PPI-M) sebagai salah satu perwakilan masyarakat Indonesia dari unsur pelajar di Malaysia akan terus menyimak proses hukum ini bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Penang, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNPTKI), serta lembaga perlindungan TKI—Migrant Care. PPI-M atas nama pelajar Indonesia se-Malaysia turut mengawal jalannya kasus ini hingga dicapai tegaknya neraca keadilan terhadap para pelaku kesalahan. Dalam upaya perjuangan hukum tersebut PPI-M melandaskan langkah pada keadilan yang bermartabat, artinya keadilan diperjuangkan-dituntut-dikehendaki sembari memelihara hubungan baik dua pihak, Indonesia dan Malaysia—sebagai bangsa serumpun yang bermartabat tinggi.

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Ma’idah ayat 8]

Berdasarkan pantauan intensif atas jalannya kasus ini, dengan ini PPI-M menyatakan-mengkritisi-mewasiatkan:

1. Hasil sidang pertama yang digelar pada Jum’at, 16 November 2012 di Mahkamah Sesyen Penang masih berpeluang memiliki celah adanya intrik hukum oleh pelaku kesalahan di waktu mendatang. Bahwa dakwaan pelecehan seksual (Seksyen 376(1) & 377 C Kanun Keseksaan dengan hukuman penjara 20 tahun dan cambuk) kepada para pelaku berkebangsaan Malaysia yakni Koperal Nik Sin Mat Lazin, 33; Konstabel Remy anak Dana, 25, dan Konstabel Syahiran Romli, 21 telah mereka sangkal dalam persidangan tersebut. Bahwa wanita berkebangsaan Indonesia yang menjadi korban pelecehan seksual di Bilik 4, Berek Balai Polis Perai, antara jam 6.40 pagi hingga 7.30 pagi Jumat, 9 November 2012 lalu itu justru diduga memberikan layanan seksual guna membebaskan diri dari tahanan polisi. Hal ini menyebabkan persidangan harus diadakan kembali sebulan kemudian, Rabu, 12 Desember 2012 dengan menghadirkan korban. Atas hasil yang belum memuaskan ini, PPI-M mengingatkan perwakilan advokat Indonesia untuk menyadari celah-celah hukum seperti ini, dan untuk tidak berhenti menyerukan ketegasan hukum, serta mendesak aparat penegak hukum Malaysia untuk menutup peluang adanya pemutarbalikan perkara.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”. [An-Nisa: 135]

2. Tren statistik kasus-kasus perendahan martabat manusia dengan korban warga Indonesia yang tidak kunjung berakhir membuktikan bahwa lembaga-lembaga negara dan swasta belum efektif dalam menjalankan fungsinya. Berulangnya kasus-kasus serupa juga membuktikan bahwa formula pencegahan oleh pemerintah Indonesia masih belum mengena kepada para pekerja migran secara keseluruhan. Data ini juga menunjukkan bahwa pemerintah Malaysia kerap membiarkan warganya mempermainkan pekerja migran, juga menunjukkan bahwa pemerintah Malaysia terlihat meremehkan memorandum dengan pemerintah Indonesia, serta menunjukkan bahwa kepedulian pemerintah Malaysia terhadap kemaslahatan pekerja migran sangat cetek.

Kasus-kasus TKI di Malaysia:
1 874 TKI mengalami kekerasan dan pelecehan seksual (hingga 2010)
2 1.187 TKI mengalami penganiayaan (hingga 2010)
3 Kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual meningkat menjadi 1.234
TKI (hingga 2011)
4 3.070 TKI mengalami kekerasan fisik (hingga 2011)
5 151 pekerja migran Indonesia ditembak mati polisi Diraja Malaysia
(sejak 2007-2012)
6 Kasus penganiayaan terhadap TKW kasus Ceriyati, Kunarsih, Modesta
Rangga Kaka, Winfaidah, Fitria, dan Sumarsih
7 Kasus pelecehan seksual oleh 3 polisi Diraja Malaysia; dan pelecehan
seksual oleh Majikan di Seremban dalam waktu hampir bersamaan.

Sumber: Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, BNP2TKI, Kementerian Luar Negeri, KBRI dan keluarga korban

Data ini harus dilihat oleh semua pihak sebagai masalah bersama, bukan sebagai persoalan yang terkotak-kotak oleh bingkai negara. Indonesia boleh melestarikan warganya menjadi pekerja di Malaysia selama Malaysia tidak melestarikan warganya menjadi sumber masalah. Pemerintah Indonesia harus membuat draft baru kerjasama pengiriman tenaga kerja dengan mencantumkan kewajiban bagi pemerintah Malaysia untuk secara berkala dan intensif memberikan penyuluhan kepada para pemegang kuasa perusahaan, supervisor, majikan, aparat polisi, dan pejabat negeri setempat mengenai penanganan dan adab terhadap pekerja migran.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [An-Nisa: 58]

3. Ditemukan fakta bahwa secara psikologis pekerja migran menganggap
dirinya rendah di mata warga lokal. Hal inilah yang menyebabkan pekerja migran mudah dipermainkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Oknum-oknum tersebut umumnya memanfaatkan keluguan pekerja asing untuk mereka bodohi, menggunakan ketidaktahuan pekerja asing untuk mereka tipu, dan mendayagunakan kekhawatiran pekerja asing untuk mereka ancam. Sebaliknya apabila dalam diri pekerja asing telah tertanam kepercayaan diri maka pelecehan terhadap mereka akan terhindarkan, apabila dalam diri pekerja asing telah dibekali wawasan cukup tentang segala urusan yang menyangkut dirinya, maka penipuan terhadap mereka akan terminimalisir, dan apabila pemerintah negara asal punya kekuatan dan wibawa untuk menjamin nasib pekerja asing, maka tidak akan ada lagi bayang-bayang ancaman kepada pekerja asing tersebut. Hal ini sepatutnya menjadi keprihatinan para pelajar Indonesia di seluruh
negeri-negeri Malaysia. Para pelajar dapat mengambil peranan kepedulian terhadap rekan-rekan pekerja di sekitar lokasi belajar dalam radius satu negeri. Sudah saatnya bahwa mematutkan aspek psikologis rekan-rekan pekerja menjadi tugas sosial bagi pelajar disamping tugas belajar yang diembannya. Aspek inilah yang hendaknya menjadi fokus aksi nyata para pelajar Indonesia di seluruh pelosok Malaysia. Aksi tersebut bisa juga ditingkatkan menjadi program TKI Help & Care untuk kawasan setempat. Selanjutnya PPI-M akan menjadi penyambung urusan-urusan yang perlu ditangani di tingkat nasional oleh KBRI. “Jika pelajar bukan bagian dari penyelesaian, maka dia merupakan bagian dari persoalan”.

“Dan Katakanlah: “Berbuatlah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” [A-Taubah:105]

4. Pencitraan Indonesia yang terhormat harus semakin digalakkan di tengah-tengah masyarakat Malaysia, baik itu oleh perantau Indonesia yang sedang berprofesi maupun perantau Indonesia yang sedang belajar. Citra diri, potret diri, akhlak diri yang luhur tidak hanya akan  bermanfaat untuk diri pribadi, melainkan juga berkesan meningkatkan martabat bangsa sendiri dan menambah keseganan bangsa lain. Bangsa yang dipandang terhormat tidak akan mudah direndahkan, tidak akan gampang diremehkan, tidak akan acap dilecehkan, dan tidak akan semena-mena diperlakukan. Kesadaran ini harus mendarah-daging dan senantiasa ditebarkan secara massif agar menjadi identitas kolektif Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat yang patut dihargai. PPI-M berharap amanah ini dapat diterjemahkan oleh semua kalangan menjadi kampanye pencitraan Indonesia berakhlaqulkarimah berjangka panjang, baik dalam berbagai interaksi sosial, dalam berragam aktifitas publik, maupun dalam bermacam praktik lapangan. Terlebih kepada kalangan pelajar, para pelajar Indonesia yang berjumlah + 15 ribu orang di seluruh Malaysia disarankan dapat memainkan peran strategis ini di tengah-tengah kampus dan sekolah masing-masing. Para pelajar Indonesia sangat dianjurkan untuk menggalang kolaborasi program/kegiatan resmi bersama para pelajar Malaysia. Interaksi antara pelajar Indonesia dan Malaysia dalam momen-momen formal sangat digalakkan guna menumbuh-suburkan persaudaraan bangsa serumpun, guna menguatkan pencitraan Indonesia yang luhur, yang dengan sendirinya akan menghantarkan kemaslahatan bersama dan perbaikan situasi di masa mendatang,

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. [An Nisaa’ : 114]

5. Atas letupan-letupan emosi yang muncul di Indonesia setiap kali terjadi kasus konfrontasi Indonesia-Malaysia, PPI-M menghimbau semua pihak untuk cermat mendudukkan masalah. Hendaknya dapat dipilah antara perkara yang mengatasnamakan negara dengan perkara yang dipicu oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Kehati-hatian menyerap informasi dari media dapat menyelamatkan keutuhan dua bangsa serumpun ini. Mari menyadari bahwa berita dapat saja dijadikan komoditas oleh pembuat berita ataupun pemesan berita, oleh karena itu marilah lebih selektif dan jeli terhadap sumber informasi, lebih menaruh waspada terhadap motif-motif para narasumber, dan tidak mencampuradukkan antara tuntutan keadilan dengan hawa nafsu. Orang dungu akan melihat suatu perkara untuk memprovokasi, sedangkan orang bijak akan melihat suatu perkara untuk memunculkan solusi. Bangsa Indonesia yang dikenal luhur budi ditambah bijaksana dalam bersikap akan memanifestasikan karakter yang istimewa di mata dunia. Konfrontasi Indonesia-Malaysia bagaimanapun alasannya harus dapat diredam, karena boleh jadi ada pihak di luar dua negara ini yang akan merasa diuntungkan jika dua bangsa ini sampai berseteru. Pihakpihak yang punya pengaruh massa besar seperti pejabat pemerintah, pejabat legislatif, pimpinan ormas, pimpinan lsm, termasuk media-media kami harap dapat menangkap pesan tulus ini dan selanjutnya bersedia bersama-sama memikirkan solusi dengan hati jernih.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [Al-Hujuraat: 6 ]

 

PRESS RELEASE

Persatuan Pelajar Indoensia Se-Malaysia (PPI-M)
Kuala Lumpur, Malaysia
Senin, November 19, 2012

Kontak: Muhammad Yunus
ikhwan554@yahoo.com
+601115798002
http://www.ppi-malaysia.org

Update terkini tentang pungutan liar di kantor Offshore UM 17/07/2012

Posted by admin ppi-um in Catatan pinggir, POJOK DISKUSI, Speak UP.
2 comments

Salam pelajar Indonesia

Lama tidak update blog, kali ini admin ingin berbagi informasi mengenai pungutan liar (pungli) di kantor cabang (offshore office) Univesriti Malaya (UM) di Jakarta dan Medan, Indonesia.

Sebelumnya, admin pernah menulis mengenai masalah ini di SINI. Sekarang, admin ingin memberi perkembangan terbaru praktik pungli ini. Beberapa waktu lalu, admin mendapat email dari seorang calon PhD di UM yang nyaris kena pungli. Dia mendapat email dari oknum di Jakarta dan Medan, memintanya agar mengirim berkas pendaftarannya ke alamat email pribadi milik oknum. Modus ini sama seperti yang admin alami waktu itu. Kemudian seorang anggota PPIUM juga pernah bertanya mengenai kebenaran pungli di offshore karena adik kelasnya yang ingin lanjut ke UM juga diminta membayar sejumlah uang agar pendaftarannya bisa diproses. Yang terbaru, malam ini admin mendapat aduan melalui twitter dari seoarang calon master di UM yang sudah kena Rp.1.250.000.

Praktik pungli di offshore ini sudah marak beberapa tahun belakangan ini. Banyak korban yang menganggap pungli ini sebagai wajar sehingga mereka rela membayar sejumlah uang yang diminta mulai dari Rp.750.000 sampai Rp.2.000.000. Namun kenyataanya, segala pelayanan di offshore adalah gratis. Ini yang ditegaskan oleh UM (admin sudah menanyakan langsung ke IPS dan ISC). Pendaftar hanya diminta membayar uang pendaftaran sebanyak 50 dolar Amerika saja.

Modus yang digunakan oleh pelaku sangat sederhana. Mereka meminta calon korban mengirim berkas pendaftaran ke email pribadi mereka. Kemudian korban diminta mentransfer uang jika ingin pendaftaran mereka diproses. Mereka beralasan berkas yang diminta akan dicetak (print) lalu dikitim melalui pos ke kantor offshore yang ada di Damansara, Malaysia. Kantor offshore UM memang tidak hanya ada di luar Malaysia, tetapi juga ada di Malaysia yang dikelola oleh orang luar yang dibayar oleh UM.

Kejadian penarikan pungli ini seharusnya tidak berlaku. Pihak UM di Kuala Lumpur sendiri tidak menginginkan ini berlaku. Lagipula, seharusnya pihak tidak bertanggung jawab di kantor offshore di Jakarta dan Medan tidak melakukannya demi menjaga nama baik Indonesia dan menolong sesama orang Indonesia. Bukankah mereka sudah mendapat gaji tetap dari UM? Pendaftaran juga dilakukan secara online jadi tidak ada alasan mereka perlu mencetak berkas-berkas yang diterima dari calon pelajar.

Admin menulis informasi ini untuk menghimbau kepada para calon pelajar di UM dari Indonesia, atau siapa saja yang mempunyai kerabat ingin mendaftar ke UM, agar berhati-hati dan tidak gelabah dengan membayar sejumlah uang yang diminta. Ada baiknya anda sekalian bertanya kepada pelajar Indonesia yang sudah menjadi pelajar UM. Kami di PPIUM juga siap menolong kawan-kawan yang ingin mendaftar di UM. Kalau mau aman lagi, kawan-kawan para calon pelajar UM bisa langsung menghubungi UM. Bisa melalui nomor telefon atau email yang bisa di dapat di website IPS untuk calon pascasarjana dan ISC untuk calon sarjana.

Ada kabar baik, setelah aduan yang admin ajukan kepada ISC, sekarang pelajar Indonesia yang menjadi alumni UM yang ingin melanjutkan pelajaran di UM tidak perlu melalui offshore. Semua berkas pendaftaran yang dimasukkan secara online akan langsung dikirim ke fakulti yang bersangkutan.

Demikian yang bisa admin ceritakan. Semoga kita bisa berhati-hati lagi dan tidak tertipu oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Bagi yang sudah terlanjur mendaftar dan membayar, kami doakan dapat diterima segera dan dapat bergabung dengan kami di sini. Bagi yang belum mendaftar dan ingin mendaftar, jangan berputus asa karena kami di sini siap membantu. Sekian, terima kasih. 🙂

Oleh Lily El Ferawati, ketua Departmen Informasi dan Komunikasi PPIUM 2011/2012

Kantor offshore UM: Birokasi yang berbelit dan rentan penipuan 10/05/2012

Posted by admin ppi-um in Catatan pinggir, POJOK DISKUSI.
4 comments

Salam pelajar Indonesia

Tahun ajaran 2011/2012 sudah hampir menutup tirainya dan pengambilan pelajar baru akan segera dimulai. Pelajar baru untuk program sarjana, bahkan, sudah mulai menjalani kursus bahasa Inggris. Untuk pelajar pascasarjana, pendaftaran untuk intake semester dua baru saja dibuka pada tanggal 6 Mei yang lalu. Pendaftaran program pendidikan di perguruan tinggi biasanya memang ribet, terutama untuk pelajar international, apalagi di Universiti Malaya (UM) yang menetapkan pendaftaran bagi pelajar Indonesia harus melalui kantor offshore di Jakarta atau Medan. Dan di sini lah masalah bermulai.

Sebetulnya, apa sih fungsi kantor offshore UM di luar negara seperti di Indonesia, Iran, dan China? Yang pasti fungsi utamanya untuk menjadi mediator bagi calon pelajar di negara-negara tersebut dalam proses pendaftaran ke UM. Tidak dipungkiri pelajar international yang berasal dari tiga negara ini sangat besar jumlahnya. Jadi, adanya kantor cabang di negara-negara tersebut diharapkan dapat membantu memudahkan proses pendaftaran bagi calon pelajar. Tetapi bagaimana dengan pelajar Indonesia, Iran dan China yang sudah berdomisi di Malaysia? Apakah mereka juga harus mendaftar melalui kantor offshore? Jawabannya iya.

Berbicara tentang pendaftaran pelajar Indonesia khususnya, pelajar yang belum pernah menginjakkan kaki di UM mau tidak mau harus melalui kantor cabang di jakarta atau Medan untuk segala urusan pendaftarannya. Walaupun sekarang pendaftaran sudah dapat dilakukan secara online di mana jarak sudah bukan suatu halangan, berkas-berkas yang diperlukan untuk pendaftaran tetap akan terkirim ke kantor offshore terlebih dulu sebelum diterima di managemen UM yang ada di Kuala Lumpur. Ini bertujuan memudahkan pihak UM sendiri yang mungkin tidak familiar dengan sistem nilai dan dokumen persekolahan di Indonesia. Jadi adanya orang Indonesia di kantor offshore diharapkan mampu menjadi jembatan antara calon pelajar dari Indonesia dan UM. Untuk calon pelajar Indonesia yang berdomisili di Malaysia, yang berasal dari Sekolah Indonesia Kuala Lumpur atau institusi pendidikan lain misalnya, pengiriman berkas-berkas pendaftaran dapat ditujukan kepada UM Kuala Lumpur secara langsung. Namun, itu sudah tidak berlaku lagi, setidaknya untuk calon program pascasarjana. Mulai tahun ajaran 2011/2012, calon pelajar pascasarjana dari luar negara, yang telah disediakan kantor offshore, segala dokumen yang diperlukan untuk pendaftaran tetap harus melalui penyaringan di kantor offshore. Bisa dibayangkan betapa rumitnya birokrasi pendaftaran melalui offshore ini.

Saya ingin berbagi pengalaman yang saya alami sendiri ketika mau mendaftar untuk program pascasarjana di UM. Sebagai (calon) alumni, seharusnya segala proses pendaftaran cukup dilakukan di UM. Kenyataannya tidak demikian. Walaupun saya memasukkan berkas pendaftaran saya secara online (di Malaysia), berkas-berkas tersebut tidak langsung diproses di UM. Berkas-berkas tersebut secara otomatis masuk ke sistem komputer kantor offshore untuk proses penyaringan. Bahkan kwitansi pembayaran uang pendaftaran juga harus di-email-kan ke kantor yang ada di Indonesia. Jika berkas pendaftaran sudah lengkap dan kwitansi diterima, proses penjaringan baru akan dilakukan. Skenario ini persis seperti yang dijelaskan oleh pihak Institusi Pendidikan Pascasarjana atau Institut Pengajian Siswazah (IPS). Bagaimana nasib berkas-berkas kita selanjutnya?

Setelah berkas dan kwitansi diterima oleh kantor offshore, pegawai di sana akan melalukan proses pengecekkan kelengkapan dan keaslian informasi/dokumen yang kita upload secara online. Jika lulus, berkas kita akan dikirim lagi ke UM Kuala Lumpur untuk proses selanjutnya. Untuk program sarjana, berkas akan masuk ke ISC (International Student Centre). Untuk program pascasarjana berkas akan masuk ke IPS. Setelah berkas diterima oleh ISC atau IPS, berkas akan dikirim ke fakultas yang dikehendaki pendaftar. Dari kantor umum fakultas, berkas dilanjutkan ke departemen/jurusan di mana program studi yang diinginkan oleh calon pelajar ditawarkan. Bagi program pascasarjana yang akan melakukan masa studi secara full-research (seperti yang akan saya lakukan), proposal penelitian yang di-upload akan dibawa ke panel dosen yang terdiri dari profesor dan dosen dari jurusan dan dosen lain yang mempunyai expertise di bidang penelitian dan penerbitan artikel jurnal.  Jika topik penelitiannya diterima, berkas pendaftaran akan dikirim lagi ke IPS untuk penyediaan offer letter dan segala urusan daftar ulang. Untuk lebih jelasnya, proses pendaftaran bagi calon pascasarjana dari Indonesia yang ingin menjalani program by research adalah seperti diagram berikut:

Proses di atas merupakan penjelasan secara general, jadi alirannya terlihat masih jelas. Untuk proses yang lebih detail, nah, di sini lah letak  ribetnya sistem birokrasi di UM. Sebetulnya ini tidak sesusah dibayangkan tapi cukup meletihkan juga. Proses penjaringan sampe keluar offer letter memang memerlukan waktu yang lumayan lama yaitu sekitar satu atau dua bulan. Tetapi proses bisa dipercepatkan cuma dua minggu saja jika memang diperlukan demikian, terlebih lagi bagi calon pascasarjana penelitian. Yang pasti, calon pelajar yang mendaftar harus senantiasa follow-up mengenai status pendaftarannya, atau paling tidak mengenai kelengkapan dokumen atau hal-hal penting lainnya. Untuk urusan follow up inilah yang bikin pening kepala.

Hal yang paling biasa mengenai birokrasi di UM adalah main lempar sana lempar sini. Diagram di atas terlihat bahwa berkas pendaftaran yang sudah dimasukkan akan berpindah dari kantor satu ke kantor-kantor lainnya. Jadi kalau kita mau follow-up, kita harus siap di lempar sana-sini melalui kantor-kantor tersebut. Jika kita bertanya ke IPS, IPS akan lempar ke fakultas. Fakultas tidak mengerti apa yang ditanyakan, maka kita akan dilempar lagi ke IPS. IPS malas melayani, maka kita siap-siap berurusan dengan offshore di Indonesia. Kantor offshore di Indonesia tidak juga mengerti, mereka akan melempar kita ke kantor offshore yang ada di Kuala Lumpur. Benar sekali, kantor offshore rupanya bukan hanya ada di luar negara tapi ada juga di Kuala Lumpur. Bagaimana? ribet kan, berurusan dengan birokrasi cap bola voli ini?

Bisa dibilang birokrasi ala kampus nomer 164 sedunia ini cukup menguras tenaga dan pikiran. Bayangkan berapa jauh jarak antara Indonesia dengan Malaysia? Tidak usah membahas jarak Indonesia dan Malaysia, ini sudah jelas jauh sekali. Kita pikirkan saja jarak antara kantor IPS, ISC, fakultas dan tempat tinggal kita di Kuala Lumpur. Jarak dari satu kantor ke kantor lainnya di dalam kampus UM sendiri memang cukup jauh. Untuk kasus saya misalnya,  jarak fakultas saya (Sastera dan Sains Sosial) dan IPS, jika ditempuh dengan berjalan kaki, maka saya harus menghadapi kenyataan kaki gempor sesudahnya. Kendaraan sendiri tidak punya dan bus card tidak terbeli (karena saya tidak tinggal di kolej, jadi buat apa beli bus card), terpaksa saya harus “neksi”. Kalau urusan ini bisa diselelsaikan dalam sehari, dengan estimasi bolak-balik dari fakultas-IPS cuma sekali atau dua kali dalam sehari, tidak masalah. Kalau berhari-hari? Bisa bangkrut saya. Cukup jelas di sini bahwa uang juga perlu dikuras hanya untuk urusan birokrasi di UM.

Mengapa saya tidak telefon saja ke kantor-kantor tersebut? Jangan ditanya, sudah banyak kali saya mencoba telefon IPS tetapi selalu diberi sambungan ke nada sibuk. Ya, mereka memang sibuk. Setelah saya sampai di IPS, saya lihat para staf di kantor tersebut sedang sibuk mengobrol sesama sendiri. Tentunya bukan tentang urusan kerja. Yang kerja seorang dua orang saja, yang lain… “mari bergosip ibu-ibuuuu”.

Birokrasi di UM memang ada kemungkinan melibatkan uang. Minta transkrip, bayar RM10. Telat minta exam slip karena “kemiskinan” memaksa kita telat bayar iuran semester, RM15 terpaksa melayang ke exam section. Telat daftar SKS, telat pengesahan, ganti subjek di tengah semester, siap-siap merogoh ceban dari kantong. Untuk urusan pendaftaran program juga kena USD50. Ini wajar karena pendaftaran di kampus manapun pasti dikenakan uang pendaftaran. Tapi kalau diminta uang pelicin sekitar RM250 itu baru tidak masuk akal.

Ini kejadian yang saya alami sendiri ketika saya konfirmasi application ke kantor offshore di Jakarta. Saya diminta untuk bayar IDR750,000 kalau aplikasi saya mau diproses. Bahkan saya harus memasukkan ulang berkas-berkas pendaftaran saya  ke alamat email pribadi si “oknum”. Si oknum berjanji akan mengirim prosedur pembayaran jika saya “menyapanya” di email yang diberikan. Tentu saja saya mencium hal ini sebagai satu penipuan. Sudah jelas tertera di website ISC mengenai proses pendaftaran di offshore tidak akan dikenakan biaya sepeser pun. Dengan gamblangnya si oknum mengatakan bahwa bayaran yang kalau di-ringgit-kan jadi RM250 (lebih mahal RM100 dari uang pendaftaran) itu akan digunakan untuk MENGE-PRINT berkas-berkas saya supaya “enak” diprosesnya. Kalau sekedar untuk mengeprint saya bisa lakukan sendiri dan tidak perlu saya kirim ke Jakarta karena saya sudah berada di universitas yang akan saya kuliahi. Jelas sekali ini satu percobaan untuk menipu.

Untung saya tidak bodoh dan saya sudah punya pengalaman di UM, jadi saya tidak tertipu. Saya laporkan ke IPS dan seorang pegawai IPS menelefon kantor di Jakarta untuk konfirmasi. Si oknum tidak mengaku. Ya iya lah mana ada maling (atau calon maling) yang mau mengaku. Namun pegawai di IPS mengatakan kalau kejadian ini sudah pernah berlaku. Memang pernah ada beberapa komplain tentang “pungutan liar” di kantor offshore di Jakarta. Saya sendiri tidak mengerti betapa “murahnya” orang Indonesia sampai harus melakukan penipuan sebegitu terhadap sesama orang Indonesia, para pejuang intelektual yang nantinya akan jadi calon pemimpin di masa depan. Bahkan penipuan ini menyangkut (dan menyatut) nama baik sebuah universitas ternama di Malaysia.

Untuk menutup tulisan ini, saya mau menghimbau kepada teman-teman PPIUM yang mempunyai saudara atau kenalan yang mau mendaftar di UM melalui kantor offshore di Jakarta dan Medan untuk berhatihati terhadap “pungutan liar” yang berpotensi penipuan ini. UM sama sekali tidak memungut biaya tambahan selain USD50 untuk proses pendaftaran. Dan untuk kewaspadaan teman-teman sekalian, jika diminta “oknum” di Jakarta untuk mengirimkan data dan berkas pendaftaran ke alamat email ini: sheyla_81@yahoo.com, jangan pernah lakukan. Sekian dan terima kasih.

Oleh Lily El Ferawati, ketua Departemen Komunikasi dan Informasi PPIUM 2011/2012