jump to navigation

Solidaritas Tanpa Batas – Sebuah Semangat 02/03/2013

Posted by admin ppi-um in Catatan pinggir, Speak UP.
add a comment

Solidaritas tidak mengenal kelas. Sebuah pemersatu perbedaan. Indonesia berdiri atas rasa solidaritas, dari Sabang hingga Merauke. Indonesia merupakan sebuah identitas bagi setidaknya 237juta manusia. Kita punya beratus-ratus suku bangsa, ratusan ribu pulau yang terbentang di nusantara, dari Sabang hingga Merauke. Tapi satu identitas yang menyatukan kita, nasionalisme. Satu solidaritas, Indonesia.

 

Semangat kesatuan ini senantiasa dijunjung oleh warga Indonesia, di manapun berada. Persatuan Pelajar Indonesia Universiti Malaya (PPI-UM), dalam hal ini pun tidak berbeda. PPI-UM adalah pemersatu perbedaan. Sadar bahwa kita adalah anak-anak bangsa, yang pada hakikatnya adalah satu. PPI-UM berdiri atas rasa kekeluargaan. Solidaritas tanpa batas, ini lah hal yang dijunjung oleh kepengurusan PPI-UM tahun ini. Untuk memenuhi peran sebagai organisasi yang inklusif bagi seluruh pelajar Indonesia di UM. Untuk memberi manfaat bukan hanya kepada segelintir orang. Untuk menghilangkan “boundaries” yang ada.

 

Solidaritas bukan hal yang mudah untuk dicapai. Solid merupakan impian yang harus diwujudkan. Solidaritas tanpa batas bukan sekedar retorika belaka. Untuk kembali kepada akar, di mana tujuan awal berdirinya PPI-UM adalah sebagai wadah berkumpulnya pelajar Indonesia di UM. Hanya ketika kita bersatu kita bisa lebih berarti dan berkarya lebih nyata.

 

Solidaritas tanpa batas, untuk PPI-UM yang satu.

 

Bintang Pamungkas

Ketua Umum PPI-UM 2012/2013

Pelantikan Pengurus PPIUM 2012/2013 dan Audiensi 25/02/2013

Posted by admin ppi-um in Aktivitas PPI UM.
add a comment

“Dan semoga, kita menjadi bagian dari sejarah PPI-UM yang bisa dibanggakan.”, dengan kalimat itu, Bintang Pamungkas, Ketua Umum PPI-UM periode 2012/2013, menutup pidato singkat yang menandakan dimulainya masa bakti jajaran pengurus PPI-UM 2012/2013 selama kurang lebih setahun ke depan.

SONY DSC

Bintang Pamungkas sedang memberikan pidato

Prosesi pelantikan pengurus baru yang dilaksanakan pada 23 Februari 2013 dihadiri oleh Sekretaris Jendral Persatuan Pelajar Indonesia se-Malaysia (PPIM), Stevadi Zaki Halim didampingi oleh Ketua Departemen Komunikasi dan Informasi PPIM, Annaba Ghassani. Selain dari PPIM, acara pelantikan juga disaksikan oleh kawan-kawan dari Forum Ukhuwah dan Studi Islam Universiti Malaya (FUSI UM) yang diwakili langsung oleh koordinator FUSI UM, Mohammad Hamidi yang juga merupakan salah satu dari lima anggota Dewan Pertimbangan Organisasi PPI-UM. Selain itu, PPI-UM juga mendapat kehormatan dengan hadirnya Ahmad Fadly Rahman Akbar, Ketua Umum PPI-UM 2011/2012, yang menyempatkan diri untuk hadir di acara pelantikan ini.


Prosesi pengambilan sumpah jabatan yang dipimpin oleh Stevadi Zaki Halim berlangsung dengan lancar dan penuh khidmat.
Yang berbeda dari pelantikan PPI-UM kali ini adalah adanya sesi audiensi, yang dimaksudkan untuk mendengar aspirasi dari berbagai kalangan di PPI-UM. Hal ini bersinergi dengan visi yang di bawa oleh Bintang Pamungkas, untuk mewujudkan PPI-UM sebagai wadah aspirasi yang lebih inklusif bagi seluruh pelajar Indonesia di Universiti Malaya. Dalam sesi audiensi ini, banyak masukan dan aspirasi yang keluar untuk pengurus PPI-UM ke depan, harapannya adalah semua aspirasi dapat ditampung dan direalisasikan dalam bentuk program kerja yang akan disusun dalam rapat kerja yang dilaksanakan pada 24 Februari 2013.

_DSC0090

Prosesi pengambilan sumpah

Harapan dan tugas yang besar diemban oleh pengurus yang akan bekerja untuk kurang lebih satu tahun ke depan. Selamat bertugas, kawan-kawan!

Berikut terlampir struktur pengurus PPI – UM periode 2012 / 2013;

Struktur Pengurus PPI-UM Periode 2012/2013

 

Pelindung                    :   ATDIKBUD KBRI Kuala Lumpur

Timbalan Naib Canselor University of Malaya

Hal Ehwal Pelajar (HEP) University of Malaya

 

Dewan Pertimbangan Organisasi :

  1. Ahmad Fadly Rahman Akbar
  2. Mohammad Hamidi
  3. Abdul Muhaimin
  4. Lily Rofil
  5. Syamsuri

 

Ketua Umum                 : Bintang Pamungkas

Wakil Ketua I                 : Nanda Ahmad Mahmudi

Wakil Ketua II               : Riga Al Amin

Sekretaris Umum I      : Widya Handini

Sekretaris Umum II    : Puri Rahmawati

Bendahara Umum I     : Gilang Ramadhan

Bendahara Umum II   : Ellvis Syahputri

 

Departemen Pengembangan Dan Organisasi

Ketua               : Firmansyah Shidiq Wardhana

Sekretaris        : Muhammad Alvin

Anggota          : Addina Hadi

 

Departemen Keintektualan dan Penelitian

Ketua               : Adrian Samyudia

Sekretaris       : Alifian Adrizal

Anggota          : Nisrina Fakhriati

 

Advokasi Hukum dan Pendampingan

Ketua                : Muhammad Megasuryo Firdaus

Sekretaris        : Devi Anggraeni Poetri

Anggota           : Kotrun Nada

 

Departeman Agama Dan Sosial Masyarakat

Ketua                 : Mochamad San Rego Tecton

Sekretaris        : Alvin Hafiz Pratama

Anggota           : Wahyu Prabowo

 

Departemen Seni Budaya

Ketua                 : Risky Astriningtyas

Sekretaris        : Thevetia Romeiza

Anggota          : Adrian Marbun

Ditya Hasna Karima

 

Departemen Olahraga

Ketua                 : Rizki Zaskia Hilmy

Sekretaris        : Agustina

Anggota           : Dimas Triwibowo Sarban

Ananda Fito Fidelio

 

Departemen Kewirausahaan

Ketua                : Risky Malano

Sekretaris        : Amy Maharani

Anggota           : Muhammad Akbar

Faris Ahmad Mizanus Sabri

 

Departemen Komunikasi dan Informasi

Ketua                : Jaka Ramadhan

Sekretaris        : Shafiyyah Kirana Anjani

Anggota           : Muhammad Ridwan

Departemen Komunikasi dan Informasi 

PPI – UM

Press Release PPI-Malaysia mengenai kasus TKI di Malaysia baru-baru ini 22/11/2012

Posted by admin ppi-um in Forum Pemikir, POJOK DISKUSI, PPI DUNIA, Speak UP.
add a comment

AKHIRI LUKA HATI INDONESIA!

Indonesia dan Malaysia kini dihadapkan kembali pada isu dan peristiwa yang mengusik ketenangan bersama. Berulangnya peristiwa yang melukai perasaan warga Indonesia baru-baru ini, telah meruncingkan kembali hubungan diplomatik dan memanaskan kembali situasi emosional bangsa Indonesia sebagaimana yang tersiar di berbagai media. Persoalan serius tersebut telah memunculkan reaksi keras dari masyarakat di Indonesia lewat aksi protes dan pelayangan tuntutan yang ditujukan kepada pihak Malaysia. Respon serius Malaysia tengah ditunggu semua pihak dalam bentuk penyelesaian hukum atas kasus yang diperbuat oleh warga Malaysia itu dengan segera, tuntas, dan setimpal tanpa menyisakan kekecewaan lagi sebagaimana buruknya historis penyelesaian konfrontasi IndonesiaMalaysia selama ini.

Persatuan Pelajar Indonesia se-Malaysia (PPI-M) sebagai salah satu perwakilan masyarakat Indonesia dari unsur pelajar di Malaysia akan terus menyimak proses hukum ini bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Penang, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNPTKI), serta lembaga perlindungan TKI—Migrant Care. PPI-M atas nama pelajar Indonesia se-Malaysia turut mengawal jalannya kasus ini hingga dicapai tegaknya neraca keadilan terhadap para pelaku kesalahan. Dalam upaya perjuangan hukum tersebut PPI-M melandaskan langkah pada keadilan yang bermartabat, artinya keadilan diperjuangkan-dituntut-dikehendaki sembari memelihara hubungan baik dua pihak, Indonesia dan Malaysia—sebagai bangsa serumpun yang bermartabat tinggi.

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Ma’idah ayat 8]

Berdasarkan pantauan intensif atas jalannya kasus ini, dengan ini PPI-M menyatakan-mengkritisi-mewasiatkan:

1. Hasil sidang pertama yang digelar pada Jum’at, 16 November 2012 di Mahkamah Sesyen Penang masih berpeluang memiliki celah adanya intrik hukum oleh pelaku kesalahan di waktu mendatang. Bahwa dakwaan pelecehan seksual (Seksyen 376(1) & 377 C Kanun Keseksaan dengan hukuman penjara 20 tahun dan cambuk) kepada para pelaku berkebangsaan Malaysia yakni Koperal Nik Sin Mat Lazin, 33; Konstabel Remy anak Dana, 25, dan Konstabel Syahiran Romli, 21 telah mereka sangkal dalam persidangan tersebut. Bahwa wanita berkebangsaan Indonesia yang menjadi korban pelecehan seksual di Bilik 4, Berek Balai Polis Perai, antara jam 6.40 pagi hingga 7.30 pagi Jumat, 9 November 2012 lalu itu justru diduga memberikan layanan seksual guna membebaskan diri dari tahanan polisi. Hal ini menyebabkan persidangan harus diadakan kembali sebulan kemudian, Rabu, 12 Desember 2012 dengan menghadirkan korban. Atas hasil yang belum memuaskan ini, PPI-M mengingatkan perwakilan advokat Indonesia untuk menyadari celah-celah hukum seperti ini, dan untuk tidak berhenti menyerukan ketegasan hukum, serta mendesak aparat penegak hukum Malaysia untuk menutup peluang adanya pemutarbalikan perkara.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”. [An-Nisa: 135]

2. Tren statistik kasus-kasus perendahan martabat manusia dengan korban warga Indonesia yang tidak kunjung berakhir membuktikan bahwa lembaga-lembaga negara dan swasta belum efektif dalam menjalankan fungsinya. Berulangnya kasus-kasus serupa juga membuktikan bahwa formula pencegahan oleh pemerintah Indonesia masih belum mengena kepada para pekerja migran secara keseluruhan. Data ini juga menunjukkan bahwa pemerintah Malaysia kerap membiarkan warganya mempermainkan pekerja migran, juga menunjukkan bahwa pemerintah Malaysia terlihat meremehkan memorandum dengan pemerintah Indonesia, serta menunjukkan bahwa kepedulian pemerintah Malaysia terhadap kemaslahatan pekerja migran sangat cetek.

Kasus-kasus TKI di Malaysia:
1 874 TKI mengalami kekerasan dan pelecehan seksual (hingga 2010)
2 1.187 TKI mengalami penganiayaan (hingga 2010)
3 Kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual meningkat menjadi 1.234
TKI (hingga 2011)
4 3.070 TKI mengalami kekerasan fisik (hingga 2011)
5 151 pekerja migran Indonesia ditembak mati polisi Diraja Malaysia
(sejak 2007-2012)
6 Kasus penganiayaan terhadap TKW kasus Ceriyati, Kunarsih, Modesta
Rangga Kaka, Winfaidah, Fitria, dan Sumarsih
7 Kasus pelecehan seksual oleh 3 polisi Diraja Malaysia; dan pelecehan
seksual oleh Majikan di Seremban dalam waktu hampir bersamaan.

Sumber: Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, BNP2TKI, Kementerian Luar Negeri, KBRI dan keluarga korban

Data ini harus dilihat oleh semua pihak sebagai masalah bersama, bukan sebagai persoalan yang terkotak-kotak oleh bingkai negara. Indonesia boleh melestarikan warganya menjadi pekerja di Malaysia selama Malaysia tidak melestarikan warganya menjadi sumber masalah. Pemerintah Indonesia harus membuat draft baru kerjasama pengiriman tenaga kerja dengan mencantumkan kewajiban bagi pemerintah Malaysia untuk secara berkala dan intensif memberikan penyuluhan kepada para pemegang kuasa perusahaan, supervisor, majikan, aparat polisi, dan pejabat negeri setempat mengenai penanganan dan adab terhadap pekerja migran.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [An-Nisa: 58]

3. Ditemukan fakta bahwa secara psikologis pekerja migran menganggap
dirinya rendah di mata warga lokal. Hal inilah yang menyebabkan pekerja migran mudah dipermainkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Oknum-oknum tersebut umumnya memanfaatkan keluguan pekerja asing untuk mereka bodohi, menggunakan ketidaktahuan pekerja asing untuk mereka tipu, dan mendayagunakan kekhawatiran pekerja asing untuk mereka ancam. Sebaliknya apabila dalam diri pekerja asing telah tertanam kepercayaan diri maka pelecehan terhadap mereka akan terhindarkan, apabila dalam diri pekerja asing telah dibekali wawasan cukup tentang segala urusan yang menyangkut dirinya, maka penipuan terhadap mereka akan terminimalisir, dan apabila pemerintah negara asal punya kekuatan dan wibawa untuk menjamin nasib pekerja asing, maka tidak akan ada lagi bayang-bayang ancaman kepada pekerja asing tersebut. Hal ini sepatutnya menjadi keprihatinan para pelajar Indonesia di seluruh
negeri-negeri Malaysia. Para pelajar dapat mengambil peranan kepedulian terhadap rekan-rekan pekerja di sekitar lokasi belajar dalam radius satu negeri. Sudah saatnya bahwa mematutkan aspek psikologis rekan-rekan pekerja menjadi tugas sosial bagi pelajar disamping tugas belajar yang diembannya. Aspek inilah yang hendaknya menjadi fokus aksi nyata para pelajar Indonesia di seluruh pelosok Malaysia. Aksi tersebut bisa juga ditingkatkan menjadi program TKI Help & Care untuk kawasan setempat. Selanjutnya PPI-M akan menjadi penyambung urusan-urusan yang perlu ditangani di tingkat nasional oleh KBRI. “Jika pelajar bukan bagian dari penyelesaian, maka dia merupakan bagian dari persoalan”.

“Dan Katakanlah: “Berbuatlah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” [A-Taubah:105]

4. Pencitraan Indonesia yang terhormat harus semakin digalakkan di tengah-tengah masyarakat Malaysia, baik itu oleh perantau Indonesia yang sedang berprofesi maupun perantau Indonesia yang sedang belajar. Citra diri, potret diri, akhlak diri yang luhur tidak hanya akan  bermanfaat untuk diri pribadi, melainkan juga berkesan meningkatkan martabat bangsa sendiri dan menambah keseganan bangsa lain. Bangsa yang dipandang terhormat tidak akan mudah direndahkan, tidak akan gampang diremehkan, tidak akan acap dilecehkan, dan tidak akan semena-mena diperlakukan. Kesadaran ini harus mendarah-daging dan senantiasa ditebarkan secara massif agar menjadi identitas kolektif Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat yang patut dihargai. PPI-M berharap amanah ini dapat diterjemahkan oleh semua kalangan menjadi kampanye pencitraan Indonesia berakhlaqulkarimah berjangka panjang, baik dalam berbagai interaksi sosial, dalam berragam aktifitas publik, maupun dalam bermacam praktik lapangan. Terlebih kepada kalangan pelajar, para pelajar Indonesia yang berjumlah + 15 ribu orang di seluruh Malaysia disarankan dapat memainkan peran strategis ini di tengah-tengah kampus dan sekolah masing-masing. Para pelajar Indonesia sangat dianjurkan untuk menggalang kolaborasi program/kegiatan resmi bersama para pelajar Malaysia. Interaksi antara pelajar Indonesia dan Malaysia dalam momen-momen formal sangat digalakkan guna menumbuh-suburkan persaudaraan bangsa serumpun, guna menguatkan pencitraan Indonesia yang luhur, yang dengan sendirinya akan menghantarkan kemaslahatan bersama dan perbaikan situasi di masa mendatang,

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. [An Nisaa’ : 114]

5. Atas letupan-letupan emosi yang muncul di Indonesia setiap kali terjadi kasus konfrontasi Indonesia-Malaysia, PPI-M menghimbau semua pihak untuk cermat mendudukkan masalah. Hendaknya dapat dipilah antara perkara yang mengatasnamakan negara dengan perkara yang dipicu oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Kehati-hatian menyerap informasi dari media dapat menyelamatkan keutuhan dua bangsa serumpun ini. Mari menyadari bahwa berita dapat saja dijadikan komoditas oleh pembuat berita ataupun pemesan berita, oleh karena itu marilah lebih selektif dan jeli terhadap sumber informasi, lebih menaruh waspada terhadap motif-motif para narasumber, dan tidak mencampuradukkan antara tuntutan keadilan dengan hawa nafsu. Orang dungu akan melihat suatu perkara untuk memprovokasi, sedangkan orang bijak akan melihat suatu perkara untuk memunculkan solusi. Bangsa Indonesia yang dikenal luhur budi ditambah bijaksana dalam bersikap akan memanifestasikan karakter yang istimewa di mata dunia. Konfrontasi Indonesia-Malaysia bagaimanapun alasannya harus dapat diredam, karena boleh jadi ada pihak di luar dua negara ini yang akan merasa diuntungkan jika dua bangsa ini sampai berseteru. Pihakpihak yang punya pengaruh massa besar seperti pejabat pemerintah, pejabat legislatif, pimpinan ormas, pimpinan lsm, termasuk media-media kami harap dapat menangkap pesan tulus ini dan selanjutnya bersedia bersama-sama memikirkan solusi dengan hati jernih.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [Al-Hujuraat: 6 ]

 

PRESS RELEASE

Persatuan Pelajar Indoensia Se-Malaysia (PPI-M)
Kuala Lumpur, Malaysia
Senin, November 19, 2012

Kontak: Muhammad Yunus
ikhwan554@yahoo.com
+601115798002
http://www.ppi-malaysia.org